#nasional#munir

Ditanya Soal Kasus Munir, Wiranto: Mbok ya Bicara yang Lain

Ditanya Soal Kasus Munir, Wiranto: Mbok ya Bicara yang Lain
Pengunjung memegang topeng Munir saat mengikuti persidangan sengketa informasi Tim Pencari Fakta (TPF) kematian Munir di kantor Komisi Informasi Pusat (KIP), Jakarta. Foto: Antara//Akbar Nugroho Gumay


Jakarta (Lampost.co) -- Aktor intelektual di balik terbunuhnya aktivis HAM Munir Said Thalib belum juga terungkap. Munir tewas diracun dalam penerbangan Garuda Indonesia GA-974 dari Jakarta menuju Amsterdam, 7 September 2004.

Menko Polhukam Wiranto pun enggan mengomentari kasus yang masih gelap selama 13 tahun itu.

"Mbok, ya, kamu bicara yang soal pembangunan kita bagaimana, teritorial kita yang dijarahin bagaimana. Kok bicara itu saja," ujar Wiranto saat ditemui seusai memberikan kuliah umum dengan tema Pendidikan dan bela negara di Universitas Negeri Jakarta, kemarin.

Saat ditanya bahwa kasus tersebut sudah 13 tahun belum kunjung tuntas, mantan Panglima TNI itu memilih berlalu. "Ya, kamu bicara sendiri saja," ucap dia singkat.

Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki menegaskan Jokowi telah berulang kali menginstruksikan Wiranto dan Jaksa Agung M. Prasetyo menuntaskan sejumlah kasus pelanggaran HAM berat.

"Dalam beberapa kesempatan termasuk di dalam rapat kabinet, Presiden kan sudah meminta Pak Wiranto, Jaksa Agung, untuk menyelesaikan beberapa kasus HAM. Kalau enggak salah itu ada enam dibawa Komnas HAM," kata Teten.

Pengadilan telah menjatuhkan vonis 14 tahun penjara terhadap pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto sebagai pembunuh Munir. Ketika peristiwa itu terjadi, Pollycarpus sedang cuti kerja.

Meski cuti, Pollycarpus rupanya memegang surat tugas Nomor GA/DZ-2270/04 pada 11 Agustus 2004 untuk ikut dalam penerbangan GA-974 sebagai staf aviation security.

Surat itu diketahui ditandatangani Dirut Garuda saat itu, Indra Setiawan. Pada 11 Februari 2008, Indra sudah divonis selama satu tahun penjara karena diduga terlibat.

Indra diduga mengeluarkan surat tugas buat Polly setelah menerima surat resmi dari Badan Intelijen Negara. Dalam nota pembelaannya, Indra mengaku tidak tahu-menahu surat resmi yang diterimanya pada Juni atau Juli 2004 merupakan bagian dari rencana pembunuhan.

Terdakwa lain dalam kasus ini, mantan Deputi V BIN Muchdi Purwoprandjono, divonis bebas dari segala dakwaan 13 Desember 2008.

Komisioner Komnas HAM Sandra Moniaga menduga aktor intelektual belum terungkap salah satunya karena kasus itu sudah lama.

"Namun, kan orang-orang yang terlibat masih hidup. Jadi sebenarnya masalah lamanya kasus tetap tak bisa jadi alasan," ujarnya.

EDITOR

MTVN

loading...




Komentar


Berita Terkait