#buras#bbm#premium

Di Balik Antrean Premium di SPBU!

Di Balik Antrean Premium di SPBU!
H. Bambang Eka Wijaya. (Foto: Dok/Lampost.co)


SETIAP truk tangki masuk disusul antrean panjang mobil dan sepeda motor mengular sampai ke jalan raya untuk mengisi premium, jadi terpikir kenapa harus begini? Padahal, premium bukan termasuk BBM yang disubsidi, semestinya konsumen tidak harus dibuat sedramatis itu, mengintip truk tangki datang untuk antre.

Melihat antrean panjang itu sekali waktu jadi teringat di Jepang, negeri yang buminya tidak mengandung minyak. Kapan saja orang mau mengisi bensin, jenis apa saja, tersedia di SPBU, termasuk minyak tanah untuk kompor pemanas pada musim dingin.

Pelanggan mengisi sendiri seberapa perlunya, dengan transaksi memakai kartu debit atau sejenisnya. Tidak seorang pun terlihat petugas melayani pembeli di SPBU, semua pelanggan melakukan sendiri transaksi dan pengisiannya. Tidak ada antrean sama sekali. Segala sesuatu senantiasa berjalan baik.

Semua itu bisa terjadi, utamanya karena faktor budaya. Mulai budaya di perusahaan yang melayani penyediaan minyak (corporate cultural). Segala sesuatu direncanakan dan dilaksanakan untuk memudahkan pelanggan. Kemudian, budaya masyarakatnya, berusaha selalu tertib menghormati pelayanan yang diberikan penyedia minyak, sehingga selalu melakukan transaksi dengan baik tanpa dijaga petugas sekalipun.

Di negeri kita, kedua hal tersebut, budaya perusahaan dan budaya masyarakatnya, belum sampai ke sana. Di sisi perusahaan (Pertamina) utamanya karena beban yang berat dengan terus naiknya harga minyak dunia dan menguatnya dolar atas semua mata uang global.

Pokok masalahnya pada posisi Indonesia sejak 2002 telah menjadi net importir BBM. Kini produksi dalam negeri sehari sekitar 750 ribu barel, sedang pemakaian 1,6 juta barel. Kekurangannya diimpor dengan harga sekitar 75 dolar AS per barel.

Celakanya, pembelian 850 ribu barel per hari kekurangan itu harus dibayar dengan dolar AS. Hitung sendiri berapa banyak Pertamina harus memborong dolar dari pasar untuk membayar impor BBM. Kebutuhan dolar Pertamina ini saja bisa menaikkan kurs dolar, termasuk untuk membayar utang dan bunganya, pengamat ekonomi UI Talisa Aulia menghitung kebutuhan dolar Pertamina sekitar 140 juta dolar setiap hari. (CNBC-I, 26/10)

Beban itu bukan pula bakal turun. Sebaliknya, setiap tahun kendaraan roda empat ke atas bertambah satu juta unit, dan sepeda motor tambah lebih lima juta unit. Sehingga, tanpa langkah brilian yang menghadirkan budaya perusahaan seperti di Jepang, antrean di SPBU itu bisa lebih panjang lagi.

EDITOR

H. Bambang Eka Wijaya

loading...




Komentar


Berita Terkait