#PNTanjungkarang#Granat#KY

Desakan agar KY Periksa Hakim Vonis Bebas Pekara Sabu, Ini Kata PN Tanjungkarang

Desakan agar KY Periksa Hakim Vonis Bebas Pekara Sabu, Ini Kata PN Tanjungkarang
Hakim yang menyidangkan terdakwa, Kamis 23 Juni 2022. dok Pengadilan Negeri Tanjung Karang


Bandar Lampung (Lampost.co)-- Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang menanggapi desakan Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Lampung terkait vonis bebas terhadap terdakwa peredaran narkoba 92 kg, M. Sulton.


Humas PN Kelas IA Tanjungkarang Hendri Irawan memaparkan penangkapan M. Sulton merupakan pengembangan dari pelaku lainnya, yakni Nanang Zakaria dan Razif Hafiz yang telah divonis mati.

Berdasarkan keterangan saksi anggota Polda Lampung M. Sulton terlibat penemuan sabu di PO Bus Putra Pelangi, di Rajabasa, kalau Nanang Zakaria menghubungi terdakwa.

Pada persidangan, Nanang membantah keterangan dari anggota Polda yang menyatakan kalau yang menyuruh Saksi Nanang dan Razif Hafiz untuk mengambil dan mengantar adalah Sofian yang menghubunginya melalui komunikasi ponsel. 

Baca Juga : Dua Kurir 92 Kg Sabu Asal Jawa Timur Divonis Mati

"Nanang serta Hafiz tidak pernah berkomunikasi yang ada kaitannya dengan ditemukannya narkotika jenis sabu di PO Bus Putra Pelangi," ujar Hendri, melalui keterangan resminya.

Kemudian pihak LP Surabaya mendapat informasi dari Polda Lampung, hingga Sulton yang berada di Blok A ditangkap bersama barang bukti tiga unit ponsel.

Kemudian, JOU mengajukan barang bukti HP di persidangan. Selanjutnya, karena adanya bantahan pelaku lain bawah Nanang dan Razif berkomunikasi dengan M. Sulton, maka harus ada pembuktikan terhadap peranan terdakwa. Polda Lampung juga telah menetapkan Sopian, sebagai DPO.

"Dengan demikian benar adanya dugaan keterlibatan Sofian terkait dengan penangkapan Nanang Zakaria Razif Hafiz bin Hafidz dan ditemukan serta diamankannya barang bukti berupa narkotika jenis sabu tersebut di PO Bus Putra Pelangi," paparnya.

Kemudian, dalam persidangan disebutkan tiga ponsel M. Sulton telah dikloning namun tidak dimasukkan dalam BAP. Seharusnya, bukti tersebut dihadirkan dipersidangan.

"Penuntut Umum tidak cukup bukti untuk dapat membuktikan keterkaitan dan keterlibatan terdakwa dalam melakukan tindak pidana percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif pertama maupun dalam dakwaan alternatif kedua," papar Hendri.

Menurut Hendri, Hakim juga ketika memutus dipastikan tidak sama sekali didasarkan karena alasan non-hukum apalagi karena suap. Tuduhan suap kepada Majelis Hakim atas setiap putusannya karena berbeda pandangan dengan penilaian majelis hakim adalah tuduhan keji dan tidak berdasarkan pada prinsip hukum dan keadilan.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roosman Yusa mengatakan, pihaknya sudah mengajukan kasasi, pada 22 Juni lalu.

Kemudian, pada Kamis 23 Juni 2022, PN Tanjungkarang akan mengirimkan pemberitahuan k atas perkara bebas tersebut ke Mahkamah Agung.

"Ia benar, sudah kasasi," kata Roosman Yusa di PN Tanjungkarang, Kamis, 23 Juni 2022.

Sebelumnya, Komisi Yudisial (KY) menanggapi pernyataan Granat Lampung yang mendesak KY periksa Hakim Jhony Butar Butar yang menjatuhkan vonis bebas terdakwa peredara narkoba M. Sulton di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang.

Selain Jhony selaku hakim ketua, dua hakim lainnya yakni Safruddin dan Yulia Susanda selaku hakim anggota, telah menjatuhkan vonis pada 21 Juni 2022 lalu.

Juru bicara KY, Miko Ginting mengatakan, hingga saat ini KY belum menerima laporan secara resmi dari proses persidangan tersebut.

"KY akan menelusuri, tetapi jika ada laporan dari masyarakat akan membantu membuat terang suatu dugaan perbuatan pelanggaran kode etik dari hakim," ujar Miko, 22 Juni 2022.

Sebelumnya, Sidang peredaran 92 KG sabu, dengan terdakwa M. Sulton, kembali digelar di PN Kelas IA Tanjungkarang, pada 21Juni  2022. Agenda sidang yakni, mendengarkan putusan.

Majelis Hakim menyatakan, M. Sulton bebas dari tuntutan, baik pasal Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1)  dan juga Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 (1) Undang-Undang RI No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Sementara dua pelaku lainnya, yakni M. Nanang Zakaria dan M. Razif Hanif telah divonis mati, terlebih dahulu. 

EDITOR

Dian Wahyu K


loading...



Komentar


Berita Terkait