#Demokrat#KLBDemokrat

Demokrat Bantah KLB Settingan untuk Dongkrak Suara

Demokrat Bantah KLB Settingan untuk Dongkrak Suara
Sekjen Partai Demokrat versi KLB Jhonny Allen (ketiga dari kiri) memberikan keterangan pers terkait urgensi KLB Sibolangit di Jakarta. MI/M IRFAN


Jakarta (Lampost.co) -- Partai Demokrat menegaskan kisruh kongres luar biasa (KLB) bukan strategi untuk menaikkan elektabilitas partai. Partai berlogo mercy itu menegaskan kisruh KLB bukan settingan.

"Situasi demokrasi Indonesia saat ini sedang genting dan perlu kerja keras kita semua," kata Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra melalui keterangan tertulis, Senin, 15 Maret 2021.

Herzaky menegaskan kisruh ini untuk mengembalikan maruah Partai Demokrat. Serta, kata dia, untuk menjaga demokrasi di Indonesia jauh dari kehancuran.

"Untuk memastikan demokrasi Indonesia tidak berjalan menuju jurang kehancuran oleh perilaku segerombolan pelaku gerakan pengambilalihan kekuasaan Partai Demokrat (GPK-PD) yang berselingkuh dengan kekuasaan," tegas Herzaky.

Herzaky juga mengatakan pihaknya tidak bisa membiarkan kubu KLB sewenang-wenang mengobrak-abrik Partai Demokrat. Apalagi, kata dia, kubu KLB sudah berani secara terang-terangan. Menurutnya, upaya pengambilan tongkat kekuasaan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini perlu dihentikan. Masyarakat diminta menilai siapa yang salah.

"Saat kita menghadapi tontonan terang benderang, perilaku penyalahgunaan kekuasaan yang bisa meluluhlantakkan demokrasi, yang ditunjukkan oleh oknum kekuasaan bersama antek-anteknya, mantan kader kami, melalui GPK-PD, tapi masih ada saja yang berpendapat ini drama politik untuk menaikkan elektabilitas dan simpati publik," ujar Herzaky.

Dia menyayangkan pihak-pihak yang menilai kisruh KLB Partai Demokrat merupakan upaya mendongkrak suara. Perjuangan para pendukung AHY untuk mempertahankan partai dijamin bukan permainan.

"Apakah sekelompok orang yang tidak berhak, diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan politik yang diklaim sebagai kongres (luar biasa) yang merupakan forum tertinggi di suatu organisasi?" tuturnya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait