#nuansa#demam-tiktok

Demam Tiktok

Demam Tiktok
Ilustrasi Pixabay.com


Firman Luqmanulhakim

Wartawan Lampung Post

BEBERAPA bulan terakhir ini, aplikasi TikTok kembali viral di berbagai platform media sosial. Aplikasi yang berasal dari Tiongkok tersebut merupakan aplikasi pembuat video pendek yang disertai fitur-fitur lucu dan unik. Hal inilah yang membuat banyak orang, terutama remaja dan anak-anak, menggandrungi aplikasi ini. Dengan aplikasi Tiktok, pengguna dapat membagikan foto atau video yang menghadirkan polah tingkah yang dinilai lucu.

Berbagai lagu dari aplikasi lengkap dengan goyangan penggunanya berseliweran di dunia maya mulai dari sosial media. Berdasarkan hasil survei akhir tahun lalu, aplikasi TikTok berhasil mengalahkan Facebook dan Instagram dari segi jumlah unduhan.

Belakangan ini, TikTok memang digemari di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia, terutama di kalangan anak muda. Padahal, beberapa waktu lalu, aplikasi ini pernah dicekal Pemerintah Indonesia. Tiktok diblokir Kementerian Kominfo karena ditemukan banyak konten negatif di aplikasi tersebut.

Namun, pemblokiran yang dilakukan Kominfo tidak berlangsung lama. Sebab, pengembang aplikasi Tiktok mengadakan pertemuan dengan pihak Kominfo untuk membahas pemblokiran. Dalam pertemuan tersebut disepakati pengembang Tiktok harus menjamin konten negatif tidak bermunculan lagi. Tiktok pun mempekerjakan 20 orang di kantornya untuk melakukan penghapusan konten-konten negatif yang dilaporkan.

Dampaknya, aplikasi Tiktok seperti terlahir kembali dan semakin populer digunakan masyarakat Indonesia. Mulai dari orang biasa hingga selebritas tidak ingin ketinggalan dengan lagu atau dance challenge yang sedang populer di aplikasi tersebut.

Penggunaan aplikasi Tiktok di kalangan remaja maupun anak-anak menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat umum. Banyak yang menganggap bahwa aplikasi ini berdampak negatif bagi perkembangan anak, tetapi tidak sedikit yang beranggapan bahwa aplikasi Tiktok dapat mengasah kreativitas anak. 

Sebenarnya, aplikasi Tiktok dan aplikasi lain secara umum ibarat sebilah pisau. Pisau yang digunakan dengan fungsi semestinya akan memberikan bermanfaat, sebaliknya pisau dapat membahayakan apabila digunakan di luar peruntukannya.

Aplikasi Tiktok dan sejenisnya sebenarnya sah-sah saja dimainkan anak-anak dengan beberapa catatan. Yang pertama dan utama adalah aplikasi tersebut digunakan dengan benar dan semestinya tanpa melanggar norma kesopanan/norma agama.

Anak-anak boleh menggunakan aplikasi tersebut untuk ajang kreativitas dan ajang pertemanan. Namun, penggunaan aplikasi ini harus dibatasi dan di bawah pengawasan orang tua.

Dalam hal ini, aplikasi Tiktok memang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan pengguna di bawah batas usia. Padahal, penggunaan aplikasi Tiktok yang berlebihan dan tanpa pengawasan orang tua justru akan berdampak negatif bagi anak-anak.

Peran orang tua maupun orang dewasa sangat penting dalam pengawasan terhadap penggunaan aplikasi telepon pintar. Para orang tua harus menanamkan pada anak mengenai pentingnya pemahaman literasi digital.

Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, masyarakat diharapkan lebih selektif dalam memilih aplikasi yang digunakan.

 

EDITOR

Bambang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait