#refleksi#Covid-19Lampung#VarianDelta

Delta Tidak Berdusta

Delta Tidak Berdusta
Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post. (DOK)


TIDAK ada yang menyangka varian baru virus corona bernama delta bisa meluluhlantakkan dunia juga Indonesia. Pekan ini, setelah Pulau Jawa dan Bali diserang, kini Sumatera, Kalimantan, juga Sulawesi dilumpuhkan delta. Buktinya, setiap hari ribuan anak bangsa terpapar wabah, ratusan warga mengakhiri hidup karena tidak kuat berjuang melawan keganasan delta.

Hanya Pegunungan Arfak, Papua Barat, yang masih terbebas dari serangan virus corona. Di Lampung saja, ada 13 dari 15 kabupaten/kota masuk zona merah. Tercatat pada 1 Agustus lalu, wilayah yang berstatus zona merah di Indonesia mencapai  240 daerah. Pekan lalu, hanya 195 kabupaten/kota.

Penyebaran Covid-19 yang kian cepat ini disebabkan mutasi virus corona—varian delta serta tidak patuhnya saat liburan Lebaran dua bulan lalu. Ini juga diperparah minimnya penerapan protokol kesehatan. Sudah tahu zona merah, masih juga mengelar acara yang menyebabkan kerumunan.

Naiknya jumlah kematian akibat Covid-19 baik di Jawa maupun Bali, juga di luar dua pulau tersebut, karena terbatasnya fasilitas kesehatan yang tak mampu menahan lonjakan pandemi. Seperti kurangnya oksigen dan tabung, tempat tidur di rumah sakit, dan ventilator. Keterbatasan inilah menyebabkan tiga kali lipat angka kasus corona naik pada Juli lalu.

Untuk menahan penyebaran Covid-19 yang sangat masif itu, selain protokol kesehatan–masyarakat berikhtiar menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas dengan mengonsumsi gizi seimbang, menambah asupan minuman suplemen peningkat imunitas, seperti vitamin A, vitamin C, vitamin D, juga vitamin E, serta olahraga dan istirahat yang cukup.

Menjaga protokol kesehatan dan asupan makan dan vitamin tidak cukup. Pengelolaan manajemen stres serta vaksinasi ternyata sangat berpengaruh besar menjaga imun tubuh, sehingga tidak mudah terinfeksi virus.  Apalagi rata-rata usia produktif direnggut nyawanya karena belum divaksin.

Juru vicara Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Erlina Burhan mengungkapkan banyaknya pasien pada usia produktif yang meninggal disebabkan mereka belum mendapatkan vaksinasi. Selain itu tingginya mobilitas kelompok usia produktif menjadi penyebab banyaknya yang terinfeksi Covid-19.

Belakangan kecenderungan terjadi pergeseran risiko kematian akibat Covid-19 di negeri ini dari populasi lanjut usia (lansia) ke kelompok warga yang berusia usia produktif. Negara janganlah melupakan kelompok usia produktif. Selama ini hanya mengampanyekan kelompok rentan (lansia) perlu dilindungi karena komorbiditas.

Tapi pergeseran risiko kematian dari lansia ke usia produktif terjadi pada kurun waktu selama Juni hingga Juli 2021. Ini fakta. Laju kasus kematian akibat Covid-19 dalam rentang bulan tersebut mencapai 1.582 orang per hari. Angka tersebut tidak didominasi kelompok lansia di atas 60 tahun. Tetapi mayoritas dari usia 46—59 tahun.

Angka kematian melonjak lima kali lipat dari 2.500 menjadi 13 ribu orang. Bahkan, ahli epidemiologi terus mengingatkan. Adalah Tri Yunis Wahyono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) berucap pergeseran risiko kematian dari kelompok lansia ke usia produktif karena persepsi yang salah terhadap bahaya varian delta.

Patut diingatkan! Varian delta juga menyerang semua umur. Risiko mati bisa menyerang siapa saja. Usia produktif mulai naik angka kasus karena mobilitasnya lebih tinggi, sehingga mereka dengan mudah terpapar. Selama ini, masih ada anggapan varian delta sama dengan virus lainnya.

Dan tidak elok jika ada komentar bahwa naiknya angka kasus kematian dan masuknya zona merah berlipat karena kegagalan kepala daerah. Gubernur dan bupati/wali kota berikhtiar mengendalikan Covid-19. Awal serangan virus dari Kota Wuhan, Tiongkok itu, memang masif apalagi bermutasi ke varian baru. Tidak hanya Lampung, seisi dunia ini tak kuat menahannya.

***

Upaya vaksinasi adalah sebuah harapan menjaga kesehatan serta mencapai kekebalan kelompok. Ada dua cara mencapai kekebalan kelompok secara alami. Pertama, membiarkan sebagian penduduk terinfeksi. Kedua, warga diberikan vaksin. Vaksinasi adalah paling manusiawi agar rakyat tidak parah jika terpapar virus delta.

Laporan dari Johns Hopkins University, Kamis (5/8), terungkap bahwa kasus Covid-19 di dunia sudah melampaui 200 juta lebih dengan kasus kematian lebih dari 4,25 juta orang. Negara yang lebih dari empat juta kasus adalah Rusia, Prancis, Inggris, Turki, Argentina, Kolombia, Spanyol, Italia, dan Iran. Negara lebih dari 100 ribu kematian, yakni India, Meksiko, Peru, Rusia, Inggris, Italia, Kolombia, Prancis, Argentina, dan Indonesia.

Menyikapi tingginya angka kematian di negeri ini, ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky berpendapat Indonesia cenderung lalai dalam mengantisipasi penyebaran virus. Tidak ada langkah jitu mengantisipasi ketika potensi masuknya varian delta. Apalagi penanganan pasien selama ini relatif buruk karena fasilitas kesehatan serta suplai oksigen yang kurang memadai.

Ingat! Tidak ada satu negara termasuk Indonesia yang siap menghadapi pandemi. Sejak awal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan pesan menakutkan tentang wabah corona, tanpa ada solusi. Bahkan, untuk mengendalikan virus dengan cara-cara lockdown.

Selama lockdown, negara-negara maju melakukan tes secara ekstensif, operasi pelacakan kontak, serta isolasi yang memungkinkan kehidupan sehari-hari kembali normal dengan cepat. Tiongkok pun melakukannya sembari membuat vaksinnya. Itu pun berhasil!

Indonesia, kata Riefky lagi, terbilang sangat lamban dalam mengendalikan pandemi. Ketika negara tetangga melaporkan lonjakan kasus, Indonesia tidak mengikuti apa yang direkomendasikan WHO. Bahkan, penarikan rem darurat diikuti masih rendahnya kepatuhan protokol kesehatan. Parahnya lagi, aparat tidak tegas dalam penindakan.

“Ketika virus pertama masuk Indonesia, pemerintah mempromosikan rapid test, metode pengujiannya jauh lebih tidak akurat. Baru pada Juli 2020, Pemerintah Pusat menyarankan agar pemerintah daerah tidak  menggunakan rapid test untuk diagnostik,” kata Riefky. Termasuk lockdown pun tidak dilakukan.

Saat seisi negeri ini memasuki gelombang kedua—munculnya varian delta, ternyata peningkatan tes belum memadai. Bahkan, rendah dibandingkan negara lain, yang berdampak di semua sektor kehidupan. Tapi negara ini lebih yakin dan menjanjikan, perekonomian kembali bergeliat pada September mendatang. Menko Maritim dan Investasi Luhut B Pandjaitan memberikan wacana itu mengenai potensi dibukanya aktivitas ekonomi.

Dibuka atau belum, negara harus melakukan penanganan Covid-19 secara masif seperti memenuhi permintaan vaksin di daerah, menyediakan fasilitas kesehatan dengan oksigen dan obat-obatan yang cukup. Apalagi pemerintah sudah memutuskan melanjutkan penerapan PPKM level 4 hingga 9 Agustus 2021. Ini untuk memutus rantai penyebaran corona.

Untuk mengurangi beban masyarakat akibat pembatasan dan penyekatan aktivitas ekonomi, negara pun hadir. Mengawal percepatan penyaluran berbagai bantuan, seperti Program Keluarga Harapan, Bantuan Sosial Tunai dan BLT Desa, serta bantuan sembako dari pusat hingga daerah.

Paling penting menyadarkan rakyat bahwa penerapan protokol kesehatan adalah harga mati. Bagi yang masih ngeyel, bisa lihat sendiri sudah berapa banyak nyawa bergelimpangan akibat tidak percaya bahwa Covid-19 itu ada. Apalagi mereka tak ingin divaksin. Lengkaplah sudah derita, karena turut menyumbang angka kematian di negeri ini. ***

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait