#densus88

Dana ACT Diduga untuk Kegiatan Terlarang di Sejumlah Negara

Dana ACT Diduga untuk Kegiatan Terlarang di Sejumlah Negara
Kepala PPATK Ivan Yustiavandana. Foto: Medcom.id/Kautsar WIdya Prabowo.


Jakarta (Lampost.co) -- Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyebut terdapat sejumlah negara yang menjadi penerima terbesar dari aliran dana organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Negara tersebut tersebar dari Asia hingga Eropa.

"10 negara yang terbesar itu antara lain Turki, Irlandia, Tiongkok, Palestina, dan beberapa negara lain," ujar Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana, dalam konferensi pers di Gedung PPATK, Jakarta Pusat, Rabu, 6 Juli 2022.

Baca juga: Pemprov Lampung Awasi ACT Lampung

Ivan tidak menjelaskan detail negara-negara lainnya yang ikut menerima uang donasi dari ACT. Pihaknya menduga uang tersebut digunakan untuk aktivitas terlarang.

"Ada beberapa transaksi lainnya yang perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut, khususnya teman-teman di aparat penegak hukum karena diduga terkait dengan aktivitas terlarang di luar negeri," kata dia.

PPATK menyerahkan hasil temuannya itu ke aparat penegak hukum. Selain itu, PPATK menemukan beberapa pengurus ACT secara individu melakukan transaksi ke beberapa pihak di luar negeri dengan jumlah yang besar.

"Misalnya, salah satu pengurus itu melakukan transaksi pengiriman dana periode 2018 dan 2019, hampir senilai Rp500 juta ke beberapa negara. Seperti ke Turki, Bosnia, Albania, dan India," kata dia. 

PPATK belum mengetahui secara jelas kegiatan terlarang yang dimaksud. Pihaknya masih melakukan pendalaman terkait hal tersebut.

 

 

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait