#stabilitasekonomi#bankindonesia#wabahcovid-19#ekbis

Dampak Covid-19 Bagi Sektor Perekonomian di Indonesia Serta Kebijakan Pemerintah untuk Meningkatkan Stabilitas Ekonomi Nasional

( kata)
Dampak Covid-19 Bagi Sektor Perekonomian di Indonesia Serta Kebijakan Pemerintah untuk Meningkatkan Stabilitas Ekonomi Nasional
Ilustrasi. Foto: Google Images


COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus SARS-CoV-2, pertama kali diidentifikasi di kota Wuhan, di Provinsi Hubei, China pada Desember 2019. Covid-19 telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. 

Jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia terus bertambah. Covid-19 sebelumnya dikenal sebagai Novel 201 Novel Coronavirus (2019-nCoV) penyakit pernapasan, sebelum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan nama resmi sebagai Covid-19 pada bulan Februari 2020. Efek wabah virus corona (covid-19) kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Perekonomian global masih akan dihadapkan dengan tantangan yang cukup besar. Di tengah upaya memperbaiki kinerja perekonomian, selain peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah dan belum selesainya isu perang dagang antara AS dan China, dunia juga dihadapkan pada kasus virus corona yang dampaknya tidak dapat dikatakan kecil bagi perekonomian global. Salah satu dampak langsung dari perkembangan tersebut adalah ke perekonomian China yang kontribusinya terhadap PDB dunia mencapai 16 persen. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan mencapai level terendah selama 29 tahun terakhir yang akan berdampak pula pada pertumbuhan perekonomian negara-negara mitra dagangnya.

Dampak ikutan dari perekonomian global secara keseluruhan. Penyebaran Covid-19 hingga ke 176 negara telah menambah ketidakpastian ekonomi global setelah sebelumnya terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (British Exit) dan pergeseran-pergeseran geopolitik internasional. Ketidakpastian tersebut meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Indonesia, terutama pada investasi dan kinerja eksternal yang cenderung melambat. Di tahun 2020 ini merupakan tahun yang sangat kelam bagi negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia, dikarenakan timbulnya sebuah virus covid 19 atau biasa disebut virus corona yang berbahaya ini, selain mengancam nyawa virus ini juga mengancam perekonomian.

Imbas dari masuknya virus corona ini ke Indonesia, menyebabkan perekonomian di Indonesia memburuk dikarenakan pekonomian Cina juga turut memburuk dan Indonesia adalah mitra perdagangan terbesar China pada tahun 2019, tercatat ekspor non-migas sebesar US$ 25,8 miliar atau sebesar Rp353,5 triliun dan impor non-migas sebesar US$ 44,6 atau sebesar Rp.611 triliun. 

Selain menjadi mitra dagang Indonesia, China juga berperan di sektor pariwisata dan ivestasinya. Tercatat di tahun 2019 wisatawan China adalah wisatawan terbesar kedua yang berkunjung ke Indonesia. 2,1 juta kunjungan, dari 12,9% dari total kunjuangan turis asing. Dan di sektor investasi, China juga merupakan PMA (Penanaman Modal Asing) terbesar kedua pada tahun 2019, yaitu sebesar US$ 4,7 milliar atau Rp64,4 triliun dari 16,8% PMA.

Dengan melihat perkembangan yang terjadi pada beberapa hari terakhir, dengan banyaknya kasus inveksi Covid-19 di Indonesia, tampaknya dampak lokal dari penyebaran Covid-19 justru akan jauh lebih besar. Tak heran, sejumlah organisasi kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020. Sebagai contoh, Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia versi mereka dari 5,0 menjadi 4,8 persen. Adapun Moody's menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,9 menjadi 4,8 persen. Bank Indonesia bahkan kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia versi mereka dari sebelumnya 5,0-5,4 persen menjadi 4,2-4,6 persen.

Pemerintah saat ini sedang menyiapkan stimulus fiskal jilid kedua dengan fokus pada industri manufaktur dan kemudahan ekspor-impor. Stimulus fiskal jilid kedua ini diluncurkan untuk mengatasi dampak negatif wabah virus corona yang menyebar di Indonesia yang juga akan berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia, kinerja ekspor Indonesia, current account deficit (CAD), kinerja fiskal, dan aliran modal.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa saat ini ada beberapa insentif perpajakan yang sedang disiapkan pemerintah sebagai bentuk stimulus fiskal jilid kedua tersebut.

"Untuk paket stimulus fiskal itu terdiri dari beberapa hal yang sudah saya sampaikan yang mencakup mengenai PPh Pasal 21 yang ditanggung pemerintah untuk industri, kemudian untuk PPh pasal 22 import yang ditangguhkan juga, serta PPh pasal 25 juga sama. Semua paket ini diharapkan dapat dilakukan dalam jangka waktu 6 bulan," ujar Menkeu.

Penulis  : Nining Mardhatillah Huzaini (Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung)

Dosen  : Muhammad Iqbal Fasa

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait