#BANDARLAMPUNG

DAK Penanganan Stunting Bandar Lampung Baru Terserap 6 Persen

DAK Penanganan Stunting Bandar Lampung Baru Terserap 6 Persen
Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana saat meninjau balita dan orang tua dalam pengukuhan kader Roaming di Aula Gedung Semergou, Senin, 28 November 2022. Lampost.co/ Umar Robbani


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah Kota Bandar Lampung mendapatkan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp500 juta untuk penanganan stunting. Namun, hingga November 2022 anggaran itu baru terserap 6 persen oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB).

Terkait hal itu, Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana meminta agar Dinas PPKB segera membuat program penanganan dan pencegahan stunting. Anggaran tersebut harus bisa terserap sebelum pergantian tahun.

"Kalau bisa November ini sudah bertambah penggunaan DAK-nya, karena sudah ditanyakan oleh pusat," ungkapnya saat pengukuhan kader Roaming di Aula Gedung Semergou, Senin, 28 November 2022.

Ia menyampaikan, penanganan stunting merupakan salah satu fokus dari pemerintah. Sehingga pihaknya juga menambah anggaran penanganan dan pencegahan senilai Rp2,5 miliar.

Sementara itu, Plt Kepala PPKB Bandar Lampung, Santi Sundari menyampaikan, salah satu upaya percepatan serapan anggaran itu adalah pembentukan Remaja dan Organisasi Masyarakat Antisipasi Stunting (Roaming). Kader Roaming bertugas untuk membantu Posyandu memberikan edukasi kepada masyarakat.

Sebelum terjun ke masyarakat, mereka mendapatkan edukasi dari BKKBN. Terlebih, lanjutnya, kelompok remaja merupakan salah satu sasaran pencegahan stunting. "Selain remaja, sasaran kami ada lima, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, ibu yang memiliki balita, dan balita," kata dia.

Selain itu, pihaknya juga telah menyalurkan bantuan pemenuhan gizi balita. Program ini dilakukan setiap Jumat melalui Posyandu di semua kecamatan.

Untuk diketahui, prevalensi stunting di Bandar Lampung adalah 19,4 persen. Sementara itu, pemerintah pusat menargetkan prevalensi 14 persen pada 2024 pada semua daerah.

EDITOR

Deni Zulniyadi


loading...



Komentar


Berita Terkait