#obatcovid-19#vaksincovid-19#viruscorona#bpom

Daftar 29 Calon Vaksin Covid-19, Dari Baru Mulai Hingga Siap Edar

Daftar 29 Calon Vaksin Covid-19, Dari Baru Mulai Hingga Siap Edar
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Foto: Antara/Dhemas Reviyanto


Jakarta (Lampost.co): Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada 29 vaksin covid-19 yang tengah diuji di dunia. Perkembangan vaksin itu tak semuanya berjalan berbarengan. Ada yang masih pada tahap baru mulai atau tahap pertama, hingga ada yang mengklaim siap edar.
 
Tim liputan Media Group News (Media Indonesia, Metro TV, dan Medcom.id) mencoba merangkum puluhan vaksin yang siap melawan virus korona tersebut. Tim juga memasukkan calon vaksin yang justru diklaim siap edar seperti yang dilansir the New York Times pada 14 Agustus 2020.
 
Daftar kandidat vaksin ini kami bagi menjadi tiga bagian, yakni calon vaksin fase pertama yang terdiri atas 13 kandidat; calon vaksin tahap gabungan (fase 1 dan fase 2) yang terdiri atas 8 kandidat; dan calon vaksin yang sudah menguji klinis tahap ketiga yang terdiri atas 8 kandidat.

Kami juga memasukkan satu kandidat vaksin yang diklaim siap diproduksi, yakni vaksin Sputnik V yang kontroversial itu. Berikut daftarnya:
 
VAKSIN FASE PERTAMA

1. Inovio

Perusahaan Amerika Serikat mengembangkan DNA vaksin yang digunakan melalui kulit yang disalurkan melalui alat gelombang listrik. Selain vaksin virus korona, Inovio turut mengembangkan vaksi dalam uji klinis untuk sejumlah penyakit. Pada Juni mereka mengumumkan data sementara dari uji coba fase pertama vaksin covid-19.
 
Setelah menjalani serangkaian uji coba, tidak ditemukan efek samping yang serius. Vaksin juga mengukur tanggapan kekebalan pada 34 dari 36 sukarelawan. Namun, Inovio belum memublikasikan hasil rinci dari studi ini. Upayanya sempat terganggu oleh faktor eksternal seperti beberapa tuntutan hukum dengan pemegang saham dan mitra perusahaan. Mereka berencana untuk memulai uji coba fase dua atau tiga pada akhir musim panas.

2. CureVac

Pada Maret, Donald Trump gagal mencoba membujuk CureVac untuk memindahkan penelitiannya dari Jerman ke Amerika Serikat. Lanjut pada Juni, CureVac meluncurkan uji coba fase 1 dari vaksin messenger RNA (mRNA)-nya. Perusahaan itu mengatakan fasilitas yang berada di Jerman dapat membuat ratusan juta dosis vaksin setahun. Namun, belum ada informasi lanjutan dari pengembangan vaksin ini.

3. Genexine

Perusahaan farmasi asal Korea Selatan ini melakukan uji coba vaksin covid-19 berbasis DNA pada Juni. Genexine akan melakukan uji fase dua sekitar Desember 2020.

4. Akademi Medis dan Ilmu Pengetahuan Militer Tiongkok, Abogen, dan Walvax

Riset gabungan dari Akademi Medis dan Ilmu Pengetahuan Militer Tiongkok, Suzhou Abogen Biosciences and Walvax Biotechnology, mengumumkan akan memulai uji keamanan pertama di Negeri Tirai Bambu untuk vaksin berbasis mRNA. Vaksin yang disebut ARCoV ini didasarkan pada uji coba kepada monyet yang dibuktikan aman.

5. ReiThera dan Institut Penyakit Menular Lazzaro Spallanzani

Perusahaan bioteknologi Italia ReiThera mengembangkan vaksin covid-19 yang disebut GRAd-COV2. Uji coba didasarkan pada adenovirus yang menginfeksi gorila. ReiThera bekerja sama dengan Institut Penyakit Menular Lazzaro Spallanzani di Roma dan sudah meluncurkan uji coba Fase 1 pada akhir Juli.

6. Merck, Themis, dan Insitut Pasteur

Merck mengakuisisi perusahaan Austria, Themis Bioscience, pada Juni dan sekarang sedang mengembangkan vaksin covid-19 kedua. Vaksin itu awalnya dikembangkan di Institut Pasteur dan menggunakan virus campak yang telah dilemahkan untuk membawa materi genetik ke dalam sel pasien. Peneliti meluncurkan uji coba fase 1 pada Agustus.

7. Clover Biopharmaceuticals, GSK, dan Dynavax

Biofarmasi Clover telah mengembangkan vaksin yang mengandung protein dari virus korona. Untuk lebih menstimulasi sistem kekebalan, vaksin diberikan bersama dengan adjuvan yang dibuat oleh produsen obat asal Inggris GSK dan perusahaan Amerika Dynavax.
Investasi dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) mendukung pengembangan manufaktur yang dapat menghasilkan produksi ratusan juta dosis setahun.

8. Vaxine

Australia tidak ketinggalan dalam upaya mengembangkan vaksin. Perusahaan obat Vaxine mengembangkan vaksin yang menggabungkan protein virus dengan bahan pembantu yang menstimulasi sistem kekebalan. Mereka berhasil menyelesaikan uji coba fase 1 pada Juli dan berharap untuk memulai uji coba fase 2 pada September 2020.

9. Medicago, GSK, dan Dynavax

Medicago yang berbasis di Kanada, yang sebagian operasionalnya didanai oleh pembuat rokok Philip Morris, menggunakan spesies tembakau untuk membuat vaksin. Mereka menyuntikkan gen virus ke dalam daun dan sel tumbuhan kemudian membuat cangkang protein yang meniru virus.
 
Pada Juli, Medicago meluncurkan uji coba Fase 1 pada vaksin covid-19 nabati yang dikombinasikan dengan bahan pembantu dari produsen obat GSK dan Dynavax. Jika uji coba berjalan dengan baik, mereka berencana untuk memulai uji coba fase 2 atau 3 pada Oktober.

10. University of Queensland dan CSL

Vaksin dari University of Queensland di Australia mengirimkan protein virus yang diubah untuk menghasilkan respons kekebalan yang lebih kuat. Pihak universitas sudah meluncurkan uji coba Fase 1 pada Juli dan menggabungkan protein dengan bahan pembantu yang dibuat oleh perusahaan bioteknologi, CSL. Jika hasilnya positif, CSL akan memajukan uji klinis tahap akhir dan mengharapkan untuk membuat puluhan juta dosis.

11. KBP

Kentucky BioProcessing (KBP) mengembangkan vaksin berbasis tembakau kedua. KBP adalah anak perusahaan British American Tobacco di Amerika, pembuat Lucky Strike dan rokok lainnya.
 
Seperti Medicago, Kentucky BioProcessing merekayasa spesies tembakau yang disebut Nicotiana benthamiana untuk membuat protein virus. Perusahaan ini sebelumnya menggunakan teknik membuat obat yang disebut Zmapp untuk Ebola. Setelah pengujian praklinis pada musim semi, mereka mendaftarkan uji coba fase 1 untuk vaksin virus korona mereka pada Juli.

12. Medigen dan Dynavax

Pembuat vaksin yang berbasis di Taiwan, Medigen, membuat vaksin yang terbuat dari kombinasi protein lonjakan dan bahan pembantu dari Dynavax. Mereka telah mendaftarkan set uji coba Fase 1 yang akan dimulai pada September.

13. Korea Utara

Pada 18 Juli, Komisi Sains dan Teknologi Negara Korea Utara mengumumkan bahwa mereka telah memulai uji klinis pada vaksin berdasarkan bagian dari protein lonjakan virus korona. Tetapi sulit untuk menentukan kebenaran dari kabar dari Korea Utara ini, meskipun komisi tersebut mengeklaim telah menguji vaksin pada hewan, tetapi tidak memberikan data.

Terlebih lagi, dinyatakan bahwa uji efektivitas harus dilakukan di negara lain "karena tidak ada kasus Covid-19 di DPR Korea." Klaim tersebut jelas diragukan oleh para pakar.

VAKSIN FASE KEDUA

1. Zydus

Pembuat vaksin asal India, Zydus Cadila, mulai menguji vaksin berbasis DNA pada Juli. Mereka menjadi perusahaan kedua di India yang mengikuti perlombaan pengembangan vaksin covid-19 setelah Bharat Biotech. Zydus pun sudah meluncurkan uji coba Fase 2 pada 6 Agustus.

2. Imperial College London dan Morningside

Peneliti Imperial College London telah mengembangkan vaksin RNA yang bisa “memperkuat diri sendiri”. Vaksin ini diklaim bisa meningkatkan produksi protein virus untuk merangsang sistem kekebalan.
 
Kampus di Inggris itu memulai uji coba gabungan Fase 1 dan 2 pada 15 Juni dan telah bermitra dengan Morningside Ventures untuk memproduksi dan mendistribusikan vaksin melalui perusahaan baru bernama VacEquity Global Health. Para peneliti mencoba terus mengembangkan vaksin untuk mengetahui apakah bisa efektif pada akhir tahun.

3. Anges, Osaka University, dan Takara Bio

Negeri Sakura turut serta dalam perlombaan vaksin. Pada 30 Juni, perusahaan bioteknologi Jepang AnGes mengumumkan bahwa mereka telah memulai uji coba Fase 1 pada vaksin berbasis DNA. Vaksin ini dikembangkan dalam kemitraan dengan Osaka University dan Takara Bio.

4. Arcturus dan Duke-NUS

Perusahaan Arcturus Therapeutics yang berbasis di California dan Duke-NUS Medical School di Singapura telah mengembangkan vaksin mRNA. Rancangan molekul yang ‘mereplikasi sendiri’ dalam vaksin menyebabkan respons kekebalan yang kuat pada hewan percobaan. Pada Agustus, mereka meluncurkan uji coba fase gabungan 1 dan 2 di Rumah Sakit Umum Singapura.

5. Anhui Zhifei Longcom

Pada Juli, perusahaan Tiongkok Anhui Zhifei Longcom memulai uji coba Fase 2 untuk vaksin yang merupakan kombinasi protein virus dan bahan pembantu yang merangsang sistem kekebalan. Perusahaan ini merupakan bagian dari Produk Biologi Zhifei Chongqing dan telah bermitra dengan Akademi Ilmu Kedokteran Tiongkok.

6. Novavax

Serupa dengan beberapa perusahaan biotek lainnya, Novavax yang berbasis di Maryland, Amerika Serikat, membuat vaksin dengan menempelkan protein ke partikel mikroskopis. Dengan cara ini mereka telah mengambil sejumlah penyakit berbeda. mereka menyelesaikan uji coba Fase 3 pada Maret.

Novavax telah meluncurkan uji coba vaksin covid-19 pada Mei, dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) telah menginvestasikan USD384 juta untuk vaksin tersebut. Pada Juli, pemerintah AS memberikan USD1,6 miliar untuk mendukung uji klinis dan pembuatan vaksin.
 
Pada 4 Agustus, Novavax mengumumkan hasil yang menjanjikan dari dua studi pendahuluan pada monyet dan manusia. Uji coba fase 3 diharapkan dimulai pada Oktober.
 
Jika uji coba berhasil, Novavax menargetkan untuk produksi 100 juta dosis untuk digunakan di Amerika Serikat pada kuartal pertama tahun 2021. seorang eksekutif di perusahaan tersebut mengatakan dapat membuat lebih dari satu miliar dosis setahun untuk permintaan di seluruh dunia.

7. Chinese Academy of Medical Sciences

Para peneliti di Institute of Medical Biology di Chinese Academy of Medical Sciences, yang telah menemukan vaksin untuk polio dan hepatitis A, memulai uji coba fase 2 dari vaksin virus yang tidak aktif pada Juni. Namun, data hasil dari uji coba tersebut masih belum diumumkan.

8. Bharat Biotech

Berkongsi dengan the Indian Council of Medical Research and the National Institute of Virology, perusahaan India Bharat Biotech merancang vaksin yang disebut Covaxin berdasarkan bentuk virus korona yang tidak aktif. Ketika perusahaan meluncurkan uji coba gabungan fase 1 dan 2 pada Juli, laporan beredar bahwa vaksin akan siap pada 15 Agustus. Tetapi, CEO Bharat mengatakan bahwa vaksin itu akan tersedia paling cepat dari awal 2021.

VAKSIN FASE KETIGA
 
Fase tiga dari pengembangan vaksin covid-19 menjadi pembuka harapan dalam perang melawan virus korona. Perusahaan-perusahaan seperti Moderna, Sinovac, AstraZeneca bersama dengan Oxford University membuka peluang mereka untuk menemukan obat bagi virus yang sudah menginfeksi lebih dari 21 juta jiwa di dunia.

1. Moderna

Moderna mengembangkan vaksin berdasarkan messenger RNA (mRNA) untuk menghasilkan protein virus di dalam tubuh. Hingga saat ini Moderna belum mengumumkan vaksin itu di pasaran. Pemerintahan Presiden Donald Trump telah mendanai upaya Moderna untuk menghasilkan 100 juta vaksin virus korona.
 
Perjanjian antarA Pemerintah AS dan Moderna diperkirakan bernilai USD1,525 miliar (Rp22,5 triliun) untuk biaya produksi dan penyaluran vaksin covid-19. Angka tersebut juga meliputi "pembayaran insentif untuk penyaluran produk secara tepat waktu."

"Sesuai komitmen pemerintah AS mengenai akses bebas terhadap vaksin covid-19, warga Amerika akan menerima vaksin mRNA-127," sebut Moderna.
 
"Berdasarkan ketentuan terkait produk vaksin yang dibeli pemerintah, tenaga medis profesional dapat menerapkan biaya dalam hal penyuntikannya," lanjut pernyataan perusahaan.
 
Harga vaksin Moderna berkisar USD30,50 atau setara Rp450 ribu per dosis. Kandidat vaksin Moderna, mRNA-1273, adalah satu dari sedikit vaksin yang sudah memasuki uji klinis fase ketiga atau tahap final. Moderna memprediksi proses uji klinisnya akan selesai pada September mendatang.
 
Bekerja sama dengan National Institutes of Health, mereka menemukan bahwa vaksin tersebut melindungi monyet dari virus korona. Pada Maret, perusahaan memasukkan vaksin covid-19 pertama ke dalam uji coba pada manusia, yang membuahkan hasil yang menjanjikan.
Setelah melakukan studi Fase 2, mereka meluncurkan uji coba Fase 3 pada 27 Juli. Uji coba terakhir akan melibatkan 30.000 orang sehat di sekitar 89 lokasi di beberapa wilayah sekitar Amerika Serikat.

2. BioNTech, Pfizer, dan Fosun Pharma


Perusahaan Jerman BioNTech melakukan kolaborasi dengan Pfizer yang berbasis di New York, dan pembuat obat asal Tiongkok, Fosun Pharma, untuk mengembangkan vaksin mRNA. Pada Mei mereka meluncurkan uji coba gabungan Fase 1 dan 2.
 
Para sukarelawan menghasilkan antibodi melawan SARS-CoV-2, serta sel kekebalan yang disebut sel T yang merespons virus. Beberapa relawan mengalami efek samping sedang seperti gangguan tidur dan nyeri lengan.
 
Pada 27 Juli, perusahaan mengumumkan peluncuran uji coba gabungan Fase 2 dan 3 dengan 30.000 relawan di Amerika Serikat dan negara lain termasuk Argentina, Brasil, dan Jerman.
 
Kiprah BioNTech diendus oleh pemerintahan Trump dan mengganjar mereka kontrak USD1,9 miliar untuk 100 juta dosis yang akan dikirimkan pada Desember dan opsi untuk memperoleh 500 juta lebih dosis.
 
Sedangkan Jepang membuat kesepakatan untuk 120 juta dosis, untuk Uni Eropa mendapatkan 400 juta. Jika disetujui, Pfizer mengatakan mereka akan memproduksi lebih dari 1,3 miliar dosis vaksin mereka di seluruh dunia pada akhir tahun 2021.

3. CanSino Biologics

Laju perusahaan Tiongkok untuk memproduksi vaksin covid-19 amat kencang. CanSino Biologics mengembangkan vaksin berdasarkan adenovirus yang disebut Ad5, bekerja sama dengan Institut Biologi di Akademi Ilmu Kedokteran Militer Tiongkok.
 
Pada Mei, mereka menerbitkan hasil yang menjanjikan dari uji coba keamanan Fase 1, dan pada Juli perusahaan ini melaporkan bahwa uji coba Fase 2 mereka menunjukkan bahwa vaksin tersebut menghasilkan respons imun yang kuat.
 
Militer Tiongkok kemudian langsung menyetujui vaksin pada 25 Juni selama setahun sebagai "obat yang dibutuhkan secara khusus." CanSino tidak akan mengatakan apakah vaksinasi akan menjadi wajib atau opsional untuk tentara.
 
Pada 9 Agustus, Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengumumkan bahwa CanSino Biologics akan menjalankan uji coba Tahap 3 di Arab Saudi. Pihak perusahaan sedang bernegosiasi dengan negara lain untuk uji coba lebih lanjut.

4. AstraZeneca dan University of Oxford

Vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Inggris-Swedia AstraZeneca dan University of Oxford didasarkan pada adenovirus simpanse yang disebut ChAdOx1. Sebuah penelitian pada monyet menemukan bahwa vaksin memberi mereka perlindungan.
 
Pada Mei, Amerika Serikat memberikan dukungan dana sebesar USD1,2 miliar untuk proyek tersebut. Percobaan gabungan fase 1 dan 2 dari kolaborasi ini mengungkapkan bahwa vaksin itu aman, tidak menyebabkan efek samping yang parah.
 
Vaksin pun meningkatkan antibodi terhadap virus korona serta pertahanan kekebalan lainnya. Vaksin ini sekarang dalam uji coba fase 2 dan 3 di Inggris dan India, serta uji coba Fase 3 di Brasil dan Afrika Selatan.

Jika uji coba skala besar ini membuahkan hasil positif. AstraZeneca telah mengindikasikan bahwa mereka dapat memproduksi vaksin darurat pada Oktober. Mereka telah mengatakan total kapasitas produksi mereka untuk vaksin, jika disetujui, mencapai dua miliar dosis. Serum Institute di India pun telah memproduksi jutaan dosis untuk digunakan dalam uji coba.
 
Dalam pengembangan vaksin ini, seorang mahasiswa Indonesia Indra Rudiansyah, ikut terlibat. Ia bergabung dengan tim Jenner Institute University of Oxford dan membantu uji klinis yang tengah berlangsung di Universitas tertua di dunia itu.
 
Indra mengatakan penelitian utama untuk tesisnya ini sebenarnya adalah vaksin malaria. Namun, keikutsertaannya dalam tim merupakan real case dari penelitian vaksin untuk menyelamatkan nyawa banyak orang.
 
Penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini mengaku perannya dalam uji klinis ini yaitu menguji antibody response dari para volunteer yang sudah divaksinasi.
 
"Tentunya saya sangat bangga akan hal ini karena dapat berkontribusi secara nyata untuk menghadapi pandemi ini," ujarnya.
 
Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S3 DPhil in Clinical Medicine, Jenner Institute, University of Oxford itu mengatakan timnya bekerja mengembangkan vaksin untuk mencegah covid-19 sejak 20 Januari 2020.

5. The Wuhan Institute of Biological Products dan Sinopharm

The Wuhan Institute of Biological Products mengembangkan vaksin virus yang tidak aktif, yang diuji klinis oleh perusahaan milik pemerintah Tiongkok, Sinopharm. Uji coba fase 1 dan 2 menunjukkan bahwa vaksin tersebut menghasilkan antibodi pada sukarelawan, beberapa di antaranya mengalami demam dan efek samping lainnya.
 
Pada Juli, mereka meluncurkan uji coba fase 3 di Uni Emirat Arab (UEA). Di bulan yang sama, Direktur Sinopharm mengatakan kepada media pemerintah Tiongkok bahwa vaksin tersebut dapat siap untuk digunakan publik pada akhir tahun ini.

6. Sinopharm

Sinopharm juga sedang menguji vaksin virus korona kedua yang tidak aktif, yang ini dikembangkan oleh the Beijing Institute of Biological Products. Dalam uji coba fase 3 di Uni Emirat Arab, 5.000 orang menerima suntikan vaksin dari Institut Wuhan Institue, sedangkan 5.000 lainnya menerima vaksin dari Beijing Institute.

7. Sinovac

Sinovac Biothech adalah perusahaan swasta Tiongkok sedang menguji vaksin yang tidak aktif yang disebut CoronaVac. Pada Juni Sinovac mengumumkan bahwa uji coba Fase 1 dan 2 pada 743 sukarelawan tidak menemukan efek samping yang parah dan menghasilkan tanggapan kekebalan.
 
Sinovac kemudian meluncurkan uji coba fase 3 di Brasil pada Juli dan satu lagi di Indonesia pada Agustus bersama dengan Bio Farma.
 
Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, mengatakan uji klinis vaksin covid-19 ditargetkan berjalan selama enam bulan. Ia menargetkan penelitian akan rampung pada Januari 2021.
 
"Apabila uji klinis vaksin covid-19 tahap tiga lancar, Bio Farma akan memproduksinya pada kuartal 1 2021. Kami sudah mempersiapkan fasilitas produksinya dengan kapasitas produksi maksimal 250 juta dosis," ujar Honesti, Senin, 20 Juli 2020.
 
Uji klinis vaksin tersebut akan dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, dengan sampel 1.620 orang rentang usia 18-59 tahun.
 
"Sedangkan sisa dari vaksin akan digunakan untuk pengujian di beberapa laboratorium antara lain, di Bio Farma dan Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN)," sambung dia.
 
Adapun uji klinis ketiga vaksin Sinovac dilakukan di lima negara, yaitu Indonesia, Chile, Turki, Brasil, dan Bangladesh. Di Indonesia, relawan harus berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Sinovac juga membangun fasilitas untuk memproduksi hingga 100 juta dosis per tahun.

8. The Murdoch Children’s Research Institute

The Murdoch Children’s Research Institute di Australia melakukan uji coba vaksin covid-19 fase 3. Mereka melakukan uji berdasarkan vaksin Bacillus Calmette-Guerin yang dikembangkan pada awal 1900-an sebagai perlindungan terhadap tuberkulosis. Fokus uji coba saat ini diutamakan pada pertanyaan apakah sebagian vaksin melindungi dari virus korona.

VAKSIN YANG DIPRODUKSI


Vaksin Sputnik V

Ketika negara-negara fokus dengan uji klinis fase tiga, Rusia tiba-tiba saja mengumumkan vaksin Sputnik V akan diproduksi untuk melawan covid-19. Pada Selasa 11 Agustus 2020, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan persetujuan vaksin virus korona untuk digunakan. Putin mengeklaim sebagai ‘yang pertama di dunia’.
 
Dikembangkan oleh Gamaleya Institute yang berbasis di Moskow, vaksin tersebut belum melalui uji coba fase tiga. Rusia juga belum merilis data ilmiah apa pun tentang pengujiannya dan tidak dapat memverifikasi keamanan atau keefektifan dari vaksin.
 
Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) Kirill Dmietriev mengatakan keamanan adalah inti dari pengembangan vaksin ini. "Kami tahu teknologinya ampuh dan kami akan mempublikasikan data pada Agustus dan September untuk mendemonstrasikannya," kata Dmietriev.

Sementara Alexander Gintsburg, Direktur Institut Gamaleya, mengatakan uji klinis akan diterbitkan setelah dinilai oleh para ahli Rusia sendiri. Dia mengatakan Rusia berencana untuk dapat memproduksi 5 juta dosis sebulan pada Desember hingga Januari.
 
Negara seperti Brasil, Filipina dan Kazakhstan telah mengutarakan ketertarikannya akan vaksi Sputnik V. Namun negara-negara Barat meragukan efektivitas dan keamanan dari vaksin kilat tersebut.
 
Berbagai vaksin dikembangkan oleh banyak pihak dalam waktu singkat ini. Upaya tersebut tentunya amat luar biasa dilakukan mengingat pengembangan beberapa vaksi lainnya membutuhkan waktu yang sangat panjang.
 
Vaksin seperti polio membutuhkan waktu tujuh tahun pengembangan, sementara vaksin campak baru diproduksi setelah sembilan tahun pengembangan. Bahkan vaksin untuk Human papillomavirus (HPV) juga membutuhkan waktu proses yang panjang hingga 15 tahun.
 
Vaksin terlama yang diteliti dan dikembangakan adalah cacar air. Vaksin cacar air membutuhkan waktu 34 tahun sebelumnya akhirnya dapat digunakan.
 
Dengan rata-rata dari tiap perusahaan bisa membuat vaksin pada awal 2021 atau lebih dini, merupakan suatu proses yang sangat cepat. Namun diharapkan proses cepat ini bisa dibarengi dengan efektivitas dan keamanan yang bisa membunuh virus korona.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait