koronawabahkoronacoronavirusKPAIdaring

Cerita Siswa Berkebutuhan Khusus Berjuang Mengikuti Pembelajaran Daring

Cerita Siswa Berkebutuhan Khusus Berjuang Mengikuti Pembelajaran Daring
Fauzul Amni (Zulam), siswa berkebutuhan khusus kelas XI IPS 1 SMA Negeri 77 Jakarta Pusat. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra


Jakarta (Lampost.co) -- Fauzul Amni tampak asik mengotak-atik gawainya, Minggu sore, 15 November 2020. Ada yang tidak biasa dari gawai milik siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 77 Jakarta Pusat tersebut. Setiap jarinya menyentuh layar, lantas keluar suara dari gawai memberi penjelasan apa yang tengah ditekan Zulam, saapan akrabnya.

 

Misal, saat dia menekan aplikasi WhatsApp, maka akan keluar suara dari gawai dengan tempo cepat mengatakan, "Membuka WhatsApp". Begitu pula saat Zulam memilih daftar kontak yang ingin dihubunginya.

Zulam tampak sudah hafal letak navigasi telepon, panggilan video, hingga abjad keyboard handphone dalam genggamannya. Dia hanya tinggal memanfaatkan suara yang keluar dari gawai untuk melanjutkan apa yang dibutuhkannya.

Hal ini dipelajari Zulam selama tiga bulan akhir, setelah pengangkatan tumor di otaknya yang sudah dideritanya selama tiga tahun terakhir. Penyakit itu menyisakan gangguan penglihatan bagi Zulam.

"Jadi tiga tahun yang lalu abang (Zulam) ternyata ada tumor otak. Dia jatuh pas olahraga dan tiba-tiba enggak bisa melihat," terang ibu Zulam, Fadwah Maghfurah, kepada Medcom.id saat ditemui di rumahnya kawasan Jakarta Pusat.

Sejak tak bisa melihat, Zulam sangat mengandalkan indera pendengarannya. Begitu pula untuk kegiatan pembelajaran.

Selain berdaptasi dengan gawai yang telah diatur untuk gangguan penglihatan, Zulam juga mulai belajar huruf braille untuk membaca sekaligus menulis. Fadwah mulai mengupayakan kebutuhan anaknya.

Beruntung, gawai yang dimiliki Zulam telah memiliki fasilitas yang dibutuhkan. Selanjutya, Fadwah mulai bergerilya mencari kebutuhan lainnya. Mulai dari alat braille, jam tangan, jam meja yang bisa mengeluarkan suara, hingga modul-modul pembelajaran yang dibuat khusus untuk penyandang tunanetra. Perlahan, Zulam mulai terbiasa dan mampu mengikuti pembelajaran.

"Dan beruntung di sekolahnya, di SMA 77 para guru dan teman-temannya sangat supportZulam, semua membantu dan kalau ada apa-apa komunikasi lancar dengan saya," lanjut Fadwah.

Namun, metode belajar nyatanya harus berubah seiring merebaknya pandemi covid-19. Sekolah di Indonesia harus menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring, termasuk SMA 77 Jakarta, tempat Zulam belajar.

Di saat banyak murid dan guru mengeluhkan model belajar daring, Zulam malah sebaliknya. Dia lebih senang belajar dari rumah.

"Kalau belajar PJJ lebih enak sih, lebih nyantai. Kalau di sekolah harus bangun pagi, mandi terus ke sekolah. Kalau daring bangun pagi tinggal ke hadapan laptop, belajar," ungkap Zulam.

Laptop pun telah diatur sedemikian rupa untuk bisa mengeluarkan suara dan membantu Zulam mengoperasikannya. Saat dikunjungi, Zulam sempat memeragakan bagaimana dia mengerjakan soal esai sekolahnya.

Zulam mulai menggerakkan kursor dengan keyboard. Tiap baris yang dilewati, maka secara otomatis komputer akan membacakan tulisan yang tertera. Setelahnya, Zulam menekan tombol enter, untuk kemudian mulai menulis jawaban dari soal yang telah dibacakan tadi. Dengan lihai, Zulam mengetik jawaban-jawabannya.

Dalam mengetik, Zulam minim kesalahan lantaran telah hafal susunan keyboard. Sistem dalam komputer jinjing milikinya itu pun sudah diatur memberi tahu tombol apa yang diketik Zulam.

PJJ semakin dirasa mudah bagi Zulam karena tinggal mendengarkan suara gurunya lewat Zoom, maupun mendengar materi pembelajaran dari YouTube. Zulam tidak perlu banyak bergerak saat hadir secara fisik di sekolah.

Namun, ia mengakui masih ada beberapa mata pelajaran yang menjadi kendalanya. Yakni matematika dan bahasa Jepang.

"Matematika sulit ngebayangin angka-angkanya. Terus juga bahasa Jepang kan ada tulisan kanji susah itu belajarnya. Sama menggambar juga," tutur Zulam.

Beruntung saat terjadi kesusahan, orang tua dan adiknya siap membantu. Zulam lebih sering mengandalkan adiknya saat belajar. Begitu pun dengan guru sekolah. Setelah pembelajaran selesai, Zulam kerap ditanyakan gurunya terkait pemahaman materi.

"Kadang tanya sama saya, ada saran enggak Zulam belajarnya bagaimana, biar kamu paham. Atau kalau misal ada keberatan bilang saja. Tapi ya alhamdulillah semua lancar," tutur Zulam.

Setelah lulus SMA, Zulam berencana melanjutkan kuliah di bidang sosiologi. Dia bercita-cita menjadi sosiolog atau guru bimbingan konseling.

Pertemuan sore itu ditutup dengan permainan gitar Zulam. Iya, selain jadi hobi, bermain gitar juga ibarat terapi buat Zulam. Permainan gitar Fauzul begitu apik. Tak ada kunci gitar yang salah, tiap petikan pun tak pernah meleset.

Lagu More Than Words yang dinyanyikan grup musik Extreme dan Jadilah Legenda dari grup band Superman Is Dead dimainkan dengan sempurna. Zulam berhasil menambah suasana hangat dan damai di dalam rumahnya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait