#perajintempe

Cerita Perajin Tempe yang Membiayai 2 Anak Hingga Lulus Kuliah

Cerita Perajin Tempe yang Membiayai 2 Anak Hingga Lulus Kuliah
Suyitno (58) perajin tempe di Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung. Lampost.co/Andi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Suyitno (58) perajin tempe di Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung membiayai ketiga anaknya mengenyam pendidikan. Bahkan kedua anaknya sampai lulus di perguruan tinggi.

Suyitno menceritakan usaha membuat tempe yang digelutinya sejak puluhan tahun hasil turun menurun dari keluarganya. Dari usaha itu, ia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Usaha buat tempe ini sudah 25 tahun atau sejak tahun 80an. Alhamdulillah dari hasil usaha ini, saya bisa membiayai dua anak sampai ke perguruan tinggi hingga wisuda," ujarSuyitno, Kamis, 11 November 2021.

Dalam produksi, dia bisa menggunakan kedelai 50 sampai 60 kilogram. Sementara untuk prosesnya menjadi tempe memakan waktu selama tiga hari.

"Kalau untuk proses pembuatan tempe dari mulai merendam dan merebus sampai mencuci itu butuh waktu tiga hari. Setelah itu dijemur," terangnya.

Jika kering, lanjutnya, tempe-tempe tersebut baru dijual kepada pedagang di pasar tradisional maupun di warung-warung.

"Dijual keliling atau dititipkan di pedagang pasar dan warung.  Paling jauh di wilayah Margo Dadi, Jati Agung, Lampung Selatan," kata dia.

Namun usaha tempe yang digelutinya sempat ada kendala dari naiknya harga kedelai sejak beberapa bulan terakhir. Sehingga dirinya menyiasati dengan mengecilkan ukuran tempe.

"Harga kedelai sekarang masih Rp10 ribu per Kg dan sampai saat ini belum turun. Jadi terpaksa harus kurangi ukuran tempe, kalau dulu Rp7 ribu per kg. Belum lagi harga plastiknya juga naik," keluhnya.

Selain harga kedelai yang naik, kendala lainnya saat musim hujan datang. Namun, hal itu bukanlah kendala besar hingga mengurangi produksi.

"Kalau musim hujan kaya sekarang gini, biar tempe cepat kering dan bisa dijual, cuma ditambah saragih atau air rebusan bekas buat tempe," terangnya.

Dia pun mengungkapkan selama pandemi covid-19 yang melanda tidak mempengaruhi produksi dan penjualan tempe. Justru pengaruhnya terhadap harga bahan bakunya.

"Alhamdulillah selama pandemi covid-19 ini tidak ada pengaruhnya sama sekali. Penjualan tempe masih seperti biasa saja. Justru pengaruhnya itu harga bahan bakunya yang naik seperti kedelai dan plastik untuk bungkusnya," pungkasnya.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait