#teroris#densus88

Cerita Mantan Napiter Puasa Pertama Kali Bersama Keluarga

Cerita Mantan Napiter Puasa Pertama Kali Bersama Keluarga
Edi Santoso (48) pertama kali merasakan bulan ramadan bersama keluarga di Kecamatan Panjang. Lampost.co/Salda


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Edi Santoso (48) merupakan seorang mantan narapidana teroris (Napiter) kelas kakap yang pernah terlibat dalam salah satu organisasi radikal.

Ia menceritakan pertama kali merasakan bulan ramadan bersama keluarga di Kecamatan Panjang. Setelah mendekam di Lapas Kelas III A Kayu Agung Sumatra Selatan selama 10 tahun, sebelum akhirnya bebas di Lapas Khusus Teroris, Sentul, Bogor, Jawa Barat pada 2021.

Kenikmatan tiada tara bersama keluarga dan menjalani ajaran agama islam yang sesungguhnya membuat hatinya tenang dalam menjalani hidup.

"Dulu waktu masih kecil itu biasa sama teman-teman bangunin warga buat sahur pake kentongan. Tahun ini sangat bersyukur bisa menjalani ibadah ramadan bersama keluarga dan kerabat," ujarnya, Senin, 18 April 2022.

Banyak kegiatan positif yang dilakukan Edi bersama sejumlah eks napiter lainnya di bulan Ramadan. Bahkan Edi bersama tiga orang mantan napiter lainnya membentuk paguyuban atau wadah untuk menjalin silaturahmi pada 2021 lalu.

Paguyuban itu diberi nama Mangku Bumi Putra Lampung, dengan bertujuan untuk mengajak para mantan napiter kembali patuh dan mencintai NKRI.

Salah satu kegiatan tersebut yakni berbagi takjil dan bakti sosial dengan masyarakat sekitar. Mereka juga membuat usaha UMKM kuliner dan percetakan fotokopi.

"Tidak mudah untuk dapat kembali membaur dengan masyarakat pada umumnya, untuk itu kami melakukan kegiatan sosial," kata Edi.

Edi mengajak seluruh masyarakat khususnya generasi muda untuk tidak terjerumus dalam kelompok radikal yang mengatasnamakan jihad.

"Perlu perhatian dari pemerintah serta pengawasan keluarga dan lingkungan sekitar, bukan tidak mungkin bibit radikal terus bertambah,"ujarnya.

Pada bulan ramadan yang penuh berkah dan rahmat kali ini, Edi santoso mengajak warga Lampung untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah, serta memperkuat habluminallah dan habluminannas.

"Itu bisa mencegah penyebaran paham radikal untuk berkembang luas. Bahkan secara luas dapat menciptakan situasi kondusif dan aman di Provinsi Lampung," katanya.

Dalam riwayat kelamnya, Edi pernah tergabung jaringan teroris Mujahid Indonesia Barat (MIB) yang dibentuk pentolan teroris Abu Robban akhir 2012.

Namun keterlibatan Edi di MIB tidaklah lama. Pasalnya Abu Robban tewas usai terlibat baku tembak dengan Tim Densus 88 Mabes Polri saat akan dilakukan penyergapan pada pertengahan 2013.

Edi kemudian Bergabung ke Kelompok Mujahid Indonesia Timur (MIT), pimpinan Santoso alias Abu Wardah pada 2013 silam. Selama di MIT, Edi pernah terlibat langsung kontak senjata dengan aparat keamanan yang ditugaskan untuk memberantas kelompok paham radikal di Poso.

Dari serangkaian aksi teror yang dilakukannya bersama kelompoknya, Edi juga terlibat aksi perampokan di sejumlah lokasi bank. Salah satu nya di sebuah Bank milik pemerintah, di wilayah Kabupaten Pringsewu, Lampung tahun 2013.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait