#sampah#limbah

Celaka Bandar Lampung, Plastik Sampah Mengapung

Celaka Bandar Lampung, Plastik Sampah Mengapung
Pantai pantai Sukaraja melalui pesawat nirawak. Istimewa


Bandar Lampung (lampost.co) -- Tumpukan sampah di Pantai Sukaraja, Bandar Lampung, mengapung dan mengikuti deru ombak Selasa siang, 26 April 2022. Melalui pantauan pesawat nirawak, sampah terlihat sepanjang bibir pantai yang mana juga kapal nelayan terparkir di atas lautan sampah. 

Plastik di pantai Sukaraja seperti menjadi pemandangan umum setiap harinya. Padahal pemerintah pusat mencanangkan pengurangan sampah yang tumpah ke laut hingga 70% pada 2030. 

“Pemkot Bandar Lampung mengabaikan pengelolaan sampah sehingga menyebabkan menggunungnya timbulan sampah di Pantai Sukaraja,” ungkap Koordinator Ekspedisi Sungai Nusantara Amiruddin Muttaqin.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, menurut Undang-undang Pengelolaan Sampah Nomor 18 Tahun 2008 menegaskan Pemda harus menyediakan prasarana pengelolaan sampah dengan pengawasan pemerintah provinsi. 

"Namun dengan fakta menumpuknya sampah di sepanjang pantai Sukaraja menjelaskan Pemkot mengabaikan amanat undang-undang," tuturnya. 

Amir menjelaskan sumber sampah berasal dari sungai-sungai sekitar Bandar Lampung yang bermuara di Sukaraja. 

"Timbulan sampah di pantai Sukaraja menunjukkan tidak adanya layanan sampah yang baik,” paparnya.

Menurutnya Sampah plastik yang ditemukan di pantai Sukaraja 60% lebih dari sampah plastik tidak bermerek, seperti tali nelayan, tas kresek, styrofoam, sandal, pakaian bekas, alat nelayan, ember, ban dan sampah karet/beling. 

Sedangkan 40% adalah sampah bermerk yang terdiri dari bungkus/packaging makanan/minuman, bungkus personal care (peralatan mandi/cuci/pembersih ruangan). 

“Sampah plastik saset makanan dan minuman mendominasi sampah plastik bermerek dan produsen besar, seperti Wings, Indofood, Unilever, Mayora, Ajinomoto, P&G, Unicharm dan Softex," terangnya. 

Terpisah, Direktur eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan produsen itu harus dimintai pertanggungjawaban agar ikut membersihkan sampah mereka yang memenuhi pantai Sukaraja. 

"Undang-undang pengelolaan sampah menyebutkan tentang Extendeed Producer Responsibility atau tanggungjawab perusahaan atas sampah yang mereka hasilkan," ujarnya. 

Jika hal ini terus berlanjut tanpa ada pembenahan dari pemerintah, pada 2050 diprediksi jumlah sampah plastik dilautan akan lebih banyak dibandingkan jumlah ikan. 

“Sebelum 2050 jumlah sampah plastik di perairan pesisir Lampung akan lebih banyak dibandingkan ikan. Kita bisa lihat bagaimana sampah plastik yang menempel di jaring nelayan Sukaraja saat ini lebih banyak dibandingkan jumlah ikan yang berhasil ditangkap” pungkasnya.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait