#pencabulan#asusila#kriminal#beritalampung

Cabuli Anak Dibawah Umur, Siswa SMP Divonis 2 Tahun Penjara

Cabuli Anak Dibawah Umur, Siswa SMP Divonis 2 Tahun Penjara
Ahmad Kurniadi, Penasehat Hukum Pos Bantuan Hukum PBH Peradi. Lampost.co/Febi Herumanika


Bandar Lampung (Lampost.co): Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu, 4 November 2020 memvonis SF (15) warga Sukarame, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung dengan pidana penjara selama 2 tahun lantaran melakukan tindak pidana pencabulan terhadap korban R (7).

Hakim Ketua Hendro Wicaksono mengatakan perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 81 Ayat (1) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Menjatuhkan pidana oleh karena itu terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 2 tahun penjara," kata Hakim.

Vonis Majelis Hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa dimana sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 3 tahun.

Dalam vonisnya, Hakim menyebutkan bahwa perbuatan terdakwa berawal ketika saksi korban R pamit dengan ibu saksi korban untuk pergi bermain ke rumah terdakwa dan tidak lama kemudian saksi korban disusul oleh ibunya untuk mengajak saksi korban pulang.

Bahwa saat ibu korban tiba di rumah terdakwa, saksi mengobrol dengan kakak kandung terdakwa.

Selanjutnya saat berada di rumah terdakwa, korban masuk ke dalam kamar terdakwa lalu saksi korban menonton TV dengan posisi sambil berbaring di atas tempat tidur. Tidak lama dari itu terdakwa membuka celana pendek dan celana dalam yang digunakan.

Kemudian terdakwa anak membuka celana saksi korban sampai terlepas dan berbuat asusila terhadap korban.

"Pada saat pencabulan itu terjadi, korban dipanggil ibunya. Saat itu terdakwa anak langsung berhenti dan kemudian saksi korban langsung menggunakan celana dan langsung menemui ibunya di teras rumah terdakwa," kata Majelis Hakim.

Ibu saksi korban melihat keanehan pada saksi korban yang saat itu mengusap-usap wajah dengan raut wajah seperti ketakutan. Selanjutnya ibu anak mengajak saksi korban untuk pulang. Saat korban dan ibu anak tiba di rumah, ibu korban bertanya dan korban menjawab apa yang dialaminya.

Berdasarkan pemeriksaan korban R umur 7 tahun akibat perbuatan terdakwa tersebut, ditemukan celah pada selaput dara pada posisi jam tiga (kiri tengah), jam enam (tengah bawah), dan jam sembilan (kanan tengah) akibat trauma benda tumpul, sesuai dengan bunyi visum et repertum nomor R/VER/62/VI/KES.22./2020/RSB tertanggal 4 Juni 2020 yang dibuat dan ditanda tangani oleh Rumah Sakit Bhayangkara TK. III Bandar Lampung.

Ahmad Kurniadi, Penasehat Hukum Pos Bantuan Hukum PBH Peradi pada Pengadilan Negeri Tanjungkarang yang mendampingi terdakwa usai sidang mengatakan bahwa pihaknya tidak melakukan upaya hukum banding dengan alasan vonis Majelis Hakim dinilai sudah sesuai dengan perbuatan dan terdakwa menerima putusan tersebut.

"Terdakwa mengakui semuanya, berkata terus terang. Dari hasil fakta persidangan yang kami dapat anak ini (terdakwa) mengaku sering menonton film dewasa ponsel," kata Ahmad.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait