#budaya#cagarbudaya

Bungker Peninggalan Jepang, Potensi Cagar Budaya yang Terbengkalai

Bungker Peninggalan Jepang, Potensi Cagar Budaya yang Terbengkalai
Bungker bekas tempat persembunyian pasukan tentara Jepang di depan kantor Disdikbud Bandar Lampung. Lampost.co/Umar Robani


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Jika bukan warga asli Jalan Amir Hamzah, Gotongroyong, Bandar Lampung, melihat gundukan semen tepat di depan kantor Disdikbud Bandar Lampung hanya mengira coran semen biasa.

Berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2x3 meter sepintas hanya sebongkah batu dari semen. Sebagian permukaannya ditumbuhi lumut yang mengering.

Puluhan tahun lalu, benda tersebut menjadi tempat persembunyian pasukan tentara Jepang pada masa kolonial. Menurut keterangan Burhanuddin, warga setempat, di bawah semen beton itu merupakan bekas bungker.

Dalam website cagarbadaya.kemdikbud.go.id, situs itu telah didaftarkan sebagai cagar budaya pada 2016, dan diverifikasi pada 2018.

Bungker itu hanya salah satu dari empat bunker yang ada sekitar kelurahan itu. Bungker lainnya berada di belakang kantor Disdikbud, area SMAN 2 Bandar Lampung, di depan SMPN 25 Bandar Lampung.

Berdasarkan informasi yang dipercaya masyarakat, bungker itu juga terhubung ke bungker yang berada hutan kera dan sumur putri.

Menurut Burhanuddin, di tahun 1980-an bungker masih terbuka. Ia kala muda saat itu sempat masuk dan melihat-melihat ke dalam.

"Dulu masih dalam kondisi bersih tanpa lumut, tumbuhan liar, perabotan atau pun sampah," kata dia.

Menurutnya, ada satu lubang lagi menyerupai gua yang berdekatan dengan lokasi itu. Namun, sekarang sudah rata dengan tanah dan berdiri warung di atasnya.

"Di dalam rasanya pengap seperti kekurangan oksigen," tuturnya.

Meski telah didaftarkan dan diverifikasi, situs bersejarah itu saat ini belum mendapat status cagar budaya. Hal tersebut karena Kota Bandar Lampung belum memiliki Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

Kabid Kebudayaan Disdikbud Bandar Lampung, Mastita menjelaskan, TACB bertugas untuk melakukan penelitian dan penilaian kelayakan objek menjadi cagar budaya. Jika layak maka diajukan bisa diajukan dan ditetapkan oleh kepala daerah.

"Sekarang kami sedang proses membentuk TACB yang terdiri dari para ahli arkeologi, sejarawan, akademisi, tokoh masyarakat, jurnalis budaya, budayawan, dan ahli hukum," jelasnya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait