#bumdes

BUMDes di Pringsewu Dinilai Mati Suri

BUMDes di Pringsewu Dinilai Mati Suri
Dok. Kemendagri


Pringsewu (Lampost.co) --  Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di wilayah Kabupaten Pringsewu yang dianggarkan melalui dana desa (DD) dengan tujuan untuk meningkatkan ekonomi warga, dinilai belum seutuhnya bisa diharapkan.

Contohnya, di Pekon Srirahayu Kecamatan Banyumas. Meskipun sudah dibentuk BUMDes sekitar empat tahun lalu, tetapi tampak tidak ada kemajuan.

Bahkan, menurut juru tulis pekon setempat, M. Toha, keberadaan BUMDes yang pendiriannya bertujuan untuk mengembangkan ekonomi pekon kondisinya saat ini masih memprihatinkan. Ibarat pepatah, "hidup segan mati tak mau."

Toha mengatakan, pihaknya sudah mengucurkan anggaran untuk pengembangan BUMDes sebesar Rp140 juta yang dimulai sejak 2015.

"Bahkan, koordinasi antara BUMDes dengan pekon juga tidak ada. Apalagi menyumbangkan PAD (Pendapatan asli desa)," ungkapnya, Jumat, 15 Januari 2021.

Menurutnya, bantuan untuk BUMDes diberikan sejak pertama ada program DD, yaitu sekitar 2015 dengan kucuran awal Rp30 juta. Bahkan selama tiga tahun berturut-turut pekon memberikan bantuan modal hingga total Rp140 juta.

Jika saja BUMDes berkembang, kata Toha, pekon tidak segan-segan akan menambah kucuran modal. Tetapi karena selama tiga kali tidak ada perkembangan, pekon akhirnya menghentikan bantuan.  

"Tetapi anehnya setiap pemeriksaan inspektorat selalu lolos. Padahal dana desa satu rupiah saja yang dikelola pekon di pertanyakan," kata dia. 

Menurutnya dengan usaha simpan pinjam, BUMDes seharusnya sudah bisa berkembang.

"Dengan ilmu sederhana saja jika uang itu digunakan untuk kerjasama pom bensin mini, pasti prospek. Atau untuk modal pupuk buat petani, pasti banyak yang membutuhkan," kata dia.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait