#beritalampung#beritabandarlampung#ekbis#pertanian

BPTP Lampung Kembangkan Varietas Baru Kedelai Lokal Detap 1

BPTP Lampung Kembangkan Varietas Baru Kedelai Lokal Detap 1
Ilustrasi kedelai. Foto: Google Images


Bandar Lampung (Lampost.co): Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Lampung mengembangkan sejumlah varietas kedelai. Salah satu yang bisa diterapkan ialah varietas Detap 1. Dimana pengembangan kedelai lokal dilakukan sejumlah uji adaptasi. 

Anggota Tim Kegiatan Perbenihan Kedelai BPTP Lampung Danarsi Diptaningsari mengatakan jika hampir seluruh varietas kedelai lokal dinilai cocok untuk dikembangkan. 

"Uji adaptasi kami dilakukan di Lampung dan banyak yang bisa, seperti yang memiliki biji sedang ke besar itu varietas Anjasmoro. Kemudian Grobogan cocok tapi harus cukup air. Yang baru ini, detap dena, kemudian ada devon dan rata-rata kedelai lokal cocok di Lampung," kata dia, Senin, 12 September 2022. 

Baca juga: Nelayan Kualajaya Lamsel ‘Banting Setir’ Imbas Harga BBM Mahal

BPTP saat ini melakukan penanaman kedelai varietas baru di 2 tempat dengan total luasan lahan 5 hektare, yakni Pringsewu seluas 2,5 hektare ditanam varietas Gepak Kuning dan Lampung Selatan dengan luasan 2,5 hektare ditanam Detap 1, Dena 1, dan Dena 2.

"Detap 1 keunggulannya itu tahan pecah polong. Kalau di tingkat petani kalau dibiarkan di lahan, polongnya suka pecah sendiri, meskipun panennya tidak langsung tapi tidak masalah. Karena hal ini yang sering terjadi di tanaman kedelai. Karena kerap hilang di lahan, sehingga tidak bisa di panen," lanjutnya.

Kemudian umur panennya disebut Genjah, dengan masa tanam 78 hari. Detap 1 juga memiliki karakter ini biji besar. "Jadi untuk 100 biji nya itu beratnya 15,37 gram. Ini bisa digunakan untuk tempe. Karena di Lampung, khususnya Pringsewu itu biasanya biji kecil, hanya untuk tauge," katanya.

Ia menerangkan jika Detap 1 berpotensi panen 3,58 ton per hektar, atau rata-rata 2,7 ton per hektar. Kemudian memiliki Kandungan protein 40,11%, dan adiptif di lahan kering masam di Lampung Selatan. Hal ini dilakukan agar dapat menggenjot produksi kedelai lokal Lampung. Dimana selama ini produksinya kian menurun.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait