Bpntteroris

BNPT Minta Masyarakat Waspada Kotak Amal Jemaah Islamiyah

BNPT Minta Masyarakat Waspada Kotak Amal Jemaah Islamiyah
Ilustrasi kotak amal. Dok


JAKARTA (Lampost.co) -- Penggalangan dana Jemaah Islamiyah (JI) melalui kotak amal harus membuat masyarakat lebih waspada. Sebab, kelompok teror menggunakan banyak cara untuk memicu keresahan.

"Karena teroris kejahatan serius dan luar biasa jadi segala cara ditempuh untuk mewujudkan kejahatannya," ujar Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ifran Idris, dikutip dari Medcom.id, Minggu, 20 Desember 2020.

Menurut dia, masyarakat mesti meningkatkan kewaspadaan terhadap kedok yang digunakan JI dan kelompok lain. Kewaspadaan penting supaya tidak teperdaya dan membantu mereka melancarkan aksi keji di Tanah Air.

"Masyarakat harus waspada setiap strategi radikal teroris dalam menyebarkan paham anarkisnya dengan kemasan bahasa dan simbol keagamaan guna menarik simpati masyarakat," kata dia.

Sementara itu, pengamat terorisme dari Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Aceh, Al Chaidar, menilai langkah JI menggalang dana dari kotak amal kemungkinan akibat pemutusan pendanaan dari kelompok induknya di luar negeri, Al Qaeda. Kepolisian harus terus memantau dan menindak seluruh jaringan ini sebelum melancarkan teror.

"Fenomena ini menarik karena mereka mulai meninggalkan cara fa'i atau perampokan. Juga menunjukkan mereka terputus dari jaringan Al Qaeda yang selama ini mendukung mereka secara finansial," kata Al Chaidar dikonfirmasi terpisah.

Menurut dia, penggunaan kotak amal juga menunjukkan JI adalah sebuah korporasi jihad yang sedang berubah menuju cara-cara dakwah ketimbang cara teror. Bahkan langkah ini menjadi evolusi JI untuk lebih moderat. "Kemungkinan juga mereka tidak bergerak sebagai organisasi kekerasan," katanya.

Pemerintah perlu memantau jaringan ini melalui aparat kepolisian. "Perlu juga menerapkan program humanisasi, kontra wacana dan membuat daftar organisasi teroris yang diputuskan Kejaksaan agung atau Mahkamah Agung," tegas dia.

Sebelumnya, Polri mengungkap 20.068 kotak amal yang diduga untuk mendanai kelompok teroris JI tersebar di 12 daerah. Perkara ini menjerat FS berasal dari Yayasan Abdurrahman Bin Auf (ABA) sebagai tersangka.

Kotak amal yayasan tersebut tersebar di Sumatra Utara (4.000), Lampung (6.000), Jakarta (48), Semarang (300), Pati (200), Temanggung (200), Solo (2.000), Yogyakarta (2.000), Magetan (2.000), Surabaya (800), Malang (2.500), dan Ambon (20).

Ciri-ciri kotak amal yang ditemukan di Solo, Sumut, Pati, Magetan, dan Ambon berbentuk kotak kaca dengan rangka kayu. Daerah lainnya berupa kotak kaca dengan rangka aluminium.

Untuk mengelabui masyarakat dan pemerintah modus ini mencantumkan Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Hukum dan HAM, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan Kementerian Agama. Mayoritas kotak amal itu ditempatkan di warung makan dan dananya dipergunakan JI untuk aksi tertentu.

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait