#Bencana#BNPB

BNPB Mencatat 2.203 Bencana Terjadi Sejak Awal Tahun

BNPB Mencatat 2.203 Bencana Terjadi Sejak Awal Tahun
Bencana banjir mendominasi selama 2021 hingg Oktober. (Foto:Dok.Lampost)


Jakarta (Lampost.co)--Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 2.203 bencana alam terjadi di Indonesia terhitung sejak 1 Januari hingga 30 Oktober 2021. Bencana yang paling banyak terjadi adalah banjir.
 
Kepala BNPB Ganip Warsito menegaskan, pentingnya peringatan dini dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Terutama, imbuh dia, dampak yang ditimbulkan akibat La Nina yang diprakirakan bertahan hingga Februari 2022.
 
"Peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG menjadi salah satu referensi untuk ditindaklanjuti di lapangan," ujarnya, Minggu, 31 OKtober 2021.


Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?HappyInspireConfuseSad
Berdasarkan data BNPB yang dikutip Minggu dini hari, bencana paling banyak terjadi adalah banjir. Kemudian puting beliung, tanah longsor, kemudian kebakaran hutan dan lahan. Mayoritas bencana alam terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Aceh.
  
Dengan rincian bencana banjir ada 891 kejadian, puting beliung 587 kejadian, tanah longsor 406 kejadian, kebakaran hutan dan lahan 258 kejadian. Selanjutnya, bencana gempa bumi tercatat 26 kejadian, gelombang pasang dan abrasi 22 kejadian, serta kekeringan 22 kejadian.
 
Ribuan bencana alam tersebut menyebabkan 6,63 juta orang mengungsi. Kemudian sebanyak 13.031 orang luka-luka, 549 orang meninggal dunia, dan 74 orang hilang. BNPB juga mencatat ada 134.587 rumah rusak dengan rincian 17.007 rumah rusak berat, 24.035 rumah rusak sedang, 93.545 rumah rusak ringan.
 
Selain itu, sebanyak 3.597 fasilitas publik juga mengalami kerusakan yang meliputi 1.446 fasilitas pendidikan, 1.798 fasilitas peribadatan, dan 353 fasilitas kesehatan. Kemudian, terdapat pula 502 kantor dan 359 jembatan rusak.
 
BNPB telah memasang 27 alat peringatan dini bencana tanah longsor untuk membantu pengambilan keputusan proses evakuasi masyarakat. Alat tersebut masih terus ditambah hingga menjangkau ke seluruh pelosok Nusantara yang berpotensi bencana.
 
Dalam waktu dekat sejumlah wilayah pun bakal ditambah alat pendeteksi tersebut. Yakni meliputi aliran sungai di Jawa Timur dan Jawa Tengah, dilakukan penambahan sebanyak tujuh unit alat. 
 

EDITOR

Sri Agustina


loading...



Komentar


Berita Terkait