#gempa

BNPB Jelaskan Penyebab Lampung Jadi Langganan Gempa

BNPB Jelaskan Penyebab Lampung Jadi Langganan Gempa
Kepala BNPB sekaligus Ketua Satgas Penangaan Covid-19, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo bersama Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi dan jajaran di Depan Gedung Pusiban Lampung, Jumat, 19 Maret 2021. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) --  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Provinsi Lampung sebagai wilayah dengan aktivitas kegempaan tinggi. Hal ini terjadi karena di sepanjang laut barat Sumatra terdapat batas tumbukan atau subduksi Lempeng Eurasia dengan Indo-Australia.

Zona subduksi lempeng inilah yang menjadi jalur-jalur pusat gempa bumi tektonik yang tak terhindarkan dan terjadi di setiap tahunnya. 

Jalur pusat gempa yang berada di laut barat Lampung juga dapat memunculkan bencana sekunder lain, yakni gelombang laut besar yang disebut dengan tsunami.

Kepala BNPB sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penangaan Covid-19, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, mengatakan di Lampung terdapat gunung berapi Krakatau. Pada 1883, Krakatau pernah meletus dan dampaknya mencapai 12 ribu kali lebih dahsyat dari bom atom di Hirosima dan Nagasaki.

"Pada Desember 2018 terjadi longsoran anak Gunung Anak Krakatau dengan ketinggian 200 meter yang lepas dari permukaan puncaknya dan menimbulkan tsunami sangat dasyat. Di beberapa tempat tinggi gelombang tsunami mencapai lebih dari 15 meter, namun ada juga yang terlindungi oleh beberapa pulau yang ada di sekitar Gunung Anak Krakatau. Ini menjadi perhatian," kata Doni di Gedung Pusiban, Provinsi Lampung, Jumat, 19 Maret 2021.

Lampung juga, kata Doni, memiliki potensi gempa yang ditimbulkan lempeng Eurasia dengan lempeng Indo-Australia. Ini harus diketahui semua pihak dan diantisipasi.

"Masyarakat tidak boleh panik dan harus tetap tenang. Inilah yang harus kita terima. Alam kita begitu indah, punya koral yang luar biasa, punya vegetasi yang sangat lengkap di dunia. Tetapi kita juga punya risiko terjadinya gempa yang begitu besar," katanya.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait