Bnnnarkoba

BNN Dorong Napi Narkoba Segera Dieksekusi Mati

BNN Dorong Napi Narkoba Segera Dieksekusi Mati
Pemusnahan barang bukti narkoba BNN Lampung. Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung, mendorong Kejaksaan Tinggi Lampung, dan Kanwil Kemenkumham Lampung, mengambil upaya konkret terhadap Ahmad Affan (45).

Sebab, salah satu narapidana di Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas IA Bandar Lampung itu terus berulah. Setelah divonis penjara seumur hidup pada 2018, ia kembali mengedarkan narkoba, sehingga divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Tanjungkarang pada April 2019.

Selanjutnya, Affan kembali ditangkap BNNP Lampung pada 11 Desember bersama dua rekannya di LP Rajabasa, karena mengendalikan sabu dari balik jeruji besi. Kasus itu turut menyeret dua kurir dan satu penerima sabu seberat 3,127 kilogram. 

Kepala Bagian Umum BNNP Lampung, Romansyah, mengatakan pihaknya segera mendorong Kejati agar segera ada kepastian hukum bagi Ahmad Affan. Selain eksekusi mati, BNNP juga berkoordinasi dengan Kanwil Kemenkumham Lampung, agar terpidana asal Aceh itu segera dipindahkan dari Lampung. Sehingga tidak bisa mengendalikan narkoba ke Lampung.

"Agar segera di eksekusi mati, atau dia harus dipindahkan ke Nusa Kambangan. Dia enggak bisa lama-lama di sini, dikhawatirkan akan tetap bermain," ujarnya saat pemusnahan barang bukti narkoba, di Lempasing, Telukbetung Timur, Rabu 30 Desember 2020.

Di samping itu, pihaknya juga masih mendalami adanya tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Ahmad Affan selama di Penjara. "Masih didalami, karena enam orang ini kan (pelaku) saling terkait," katanya.

Pada kesempatan tersebut, BNNP Lampung memusnahkan 3,127 Kg sabu hasil tangkapan Ahmad Affan dan jaringannya. Barang tersebut awalnya dideteksi dengan trunac. Setelah dipastikan kandungannya, narkoba dimusnahkan dengan dicampur cairan pembersih lantai, diblender, hingga dibuang ke laut.

Diketahui, selain Ahmad Affan (45), dari peredaran narkoba ini BNNP Lampung turut meringkus Musatafa Kamal (44), warga Aceh, dan Faisol Tanjung (23) yang merupakan narapidana di LP Bandar Lampung.

Kemudian dua pelaku lainnya yang berperan sebagai kurir yakni, Usman Hakim (41) warga Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, dan Yudi Harary (41), warga Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Terakhir penerima barang haram tersebut, Iskandar (29), warga Tegineneng, Pesawaran. Semuanya ditangkap pada 11 Desember 2020, di tempat terpisah.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait