#korupsi#benihjagung

Bibit Pembelian Terdakwa Kasus Benih Jagung Didominasi Kualitas Buruk

Bibit Pembelian Terdakwa Kasus Benih Jagung Didominasi Kualitas Buruk
Sidang kasus korupsi benih jagung pada Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian yang dialokasikan untuk Provinsi Lampung tahun 2017 digelar di PN Tipikor Tanjungkarang, 9 Desember 2021.


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sidang kasus korupsi benih jagung pada Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian yang dialokasikan untuk Provinsi Lampung tahun 2017 digelar di PN Tipikor Tanjungkarang, 9 Desember 2021.


Dalam perkara tersebut dua orang didakwa yakni mantan Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Lampung Edi Yanto, dan Direktur PT Dempo Agro Pratama Inti, Imam Mashuri. Total kerugian negara dari pengadaan benih jagung PT Dempo mencapai Rp7,5 miliar.

Baca juga: Hakim Tolak Eksepsi Dua Terdakwa Korupsi Benih Jagung

Beberapa saksi dihadirkan dalam persidangan, di antaranya panitia penerima hasil pekerjaan yang dibentuk oleh terdakwa Edi Yanto. Kemudian ada juga saksi lainnya yakni produsen benih jagung Bima URI 20, dan broker benih jagung.

Dalam persidangan terungkap, jika dalam dua kali kontrak pembelian benih jagung dengan total 400 ton terdakwa Imam Mashuri membeli dari dua tempat yang berbeda.

Imam hanya membeli benih jagung dari PT Esa Swaraguna selaku produsen asli bima URI 20, hanya sekitar 68 Ton. Sisanya, sekitar 320 ton ia beli dari broker bernama Dedy Adnan dengan kualitas tak sesuai.

"Iya beli di saya sekitar segitu," ujar Direktur PT Esa, Fernando.

Kemudian terdakwa Edi Yanto juga membentuk panitia penerima hasil pemeriksaan yang diketuai oleh Bartolomeus.

Ternyata panitia tidak melakukan pengecekan di titik bagi yakni saat petani mendapatkan bantuan. Padahal ada berapa titik, di mana petani mendapatkan benih kualitas free market, seperti Lampung Timur, dan Lampung Tengah.

"Ceknya cuma di gudang PT Dempo itu juga sampel," kata Bartolomeus.

Ternyata laporan hasil penilaian pun telah jadi sebelum adanya pembagian benih di titik bagi. Sehingga, laporan penerimaan terlebih dahulu selesai sebelum adanya pembagian. Ia pun mengakui hal tersebut, dan beralasan karena sudah ada tanda tangan Edi Yanto terlebih dahulu.

"Iya Benar," saat menjawab pertanyaan JPU dan juga hakim.

EDITOR

Winarko


loading...



Komentar


Berita Terkait