#ratuelizabethii#kerajaaninggris#pemakamanratuelizabethii

Biaya Pemakaman Ratu Elizabeth II Terbesar dalam Sejarah   

Biaya Pemakaman Ratu Elizabeth II Terbesar dalam Sejarah   
FOTO RATU. Sebuah foto Ratu Inggris Elizabeth II terlihat di antara bunga-bunga yang diletakkan simpatisan di luar Istana Buckingham di London pada Sabtu, 10 September 2022 waktu setempat, dua hari setelah dia meninggal pada usia 96. LOIC VENANCE/AFP


Jakarta (Lampost.co) -- Ratu Elizabeth II meninggal dunia pada usia 96 tahun setelah memerintah kerajaan selama 70 tahun. Biaya pemakaman pemimpin terlama dalam sejarah kerajaan Inggris itu bakal menjadi yang terbesar dalam sejarah.
 
Jenazah Ratu disemayamkan di Westminster Hall selama empat hari agar masyarakat bisa memberikan penghormatan. Peti matinya akan dapat diakses publik selama 23 jam per hari sebelum pemakaman berlangsung di Westminster Abbey.
 
Sebanyak 2.000 tamu undangan khusus akan menghadiri pemakaman secara langsung, sementara jutaan orang akan menonton prosesi di televisi. 

Inggris Raya akan berkabung setidaknya selama 10 hari sejak kematian Ratu Elizabeth pada 8 September dengan sejumlah acara peringatan yang akan digelar. 
 
Istana Buckingham telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan kematian Ratu dan memiliki dua pengaturan terpisah antara prosesi pemakaman Ratu dan Raja.

Biaya pemakaman Ratu Elizabeth II menelan biaya besar. Bahkan, pemakaman itu disebut sebagai pemahaman dengan biaya terbesar dalam sejarah dunia. 
 
Mengutip Outkick, pemakaman dan prosesi penobatan masing-masing akan menelan biaya sekitar 6 miliar pound yang jika dikonversikan ke rupiah senilai Rp103 triliun. 
 
Tingginya biaya pemakaman Ratu Elizabeth II tentu bisa dimaklumi karena sosoknya menjadi pemimpin terlama dan begitu dicintai masyarakatnya. 
 
Sebagai perbandingan, pemakaman Putri Diana pada tahun 1997 silam menelan biaya setara dengan USD 11,8 juta atau sekitar Rp174 miliar. Lalu, pemakaman untuk Ibu Suri Elizabeth menelan biaya lebih dari 5 juta pound (sekitar Rp85,9 miliar) pada tahun 2002.

EDITOR

Muharram Candra Lugina


loading...



Komentar


Berita Terkait