#BI#BERITALAMPUNG

BI Dorong Sinergisitas untuk Pulihkan Ekonomi Lampung

BI Dorong Sinergisitas untuk Pulihkan Ekonomi Lampung
Acara diseminasi dari Bank Indonesia wilayah Lampung di Student Center FEB di Rajabasa, Bandar Lampung, Selasa 21 Juni 2022. (Lampost.co/Andre Prasetyo Nugroho)


Bandar Lampung (lampost.co) -- Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung Budiyono mengatakan perlu kolaborasi untuk melewati dilema antara pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas.  


"Perlu sinergisitas dan seragamkan program-program UMKM untuk pemulihan ekonomi," katanya saat ditemui langsung di Student Center FEB Unila, Selasa, 21 Juni 2022.

Budiyono menyatakan berbicara ekonomi Lampung berarti membahas pemulihan ekonomi pascapandemi. Sebelum pandemi Lampung, pertumbuhan ekonomi mencapai 5 persen dan hal itu dianggap relatif stabil. 

"Penurunan ekonomi karena covid-19 membuat sektor backbone ekonomi Lampung menurun seperti pertanian, perkebunan,"jelasnya. 

Budiyono menjelaskan pertumbuhan ekonomi Lampung 2022 tidak mundur sepenuhnya. Sebab ada peningkatan aktivitas masyarakat. 

"Target pertumbuhan ekonomi Lampung tahun ini meningkat, jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2021 yang tumbuh sebesar 2,79 persen. Akselerasi pemulihan ekonomi itu didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga," ucapnya. 

Baca juga: BI-Pemprov Lampung Perkuat Kolaborasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Menurut Budiyono, tantangan ke depan akan lebih berat. Sebab masa triwulan pertama APBD Lampung baru terserap 21%. 

"Pendapatan daerah itu kan salah satu komponennya spending pemerintah. Kalau pemerintah belum ada pengeluaran, tidak bisa mendorong ekonomi Lampung," ujarnya. 

Budiyono menuturkan agar tidak terjadi gejolak harga di Lampung, BI hadir untuk menstabilkan ekonomi melihat harga tidak stabil dan nilai tukar rendah. Menurutnya, salah satu cara itu adalah dengan mendorong kredit perbankan. Sebab peningkatan tingkat rekening kredit perbankan menunjukkan tanda-tanda perbaikan akses terhadap layanan keuangan dari bank. Budiyono menyebutkan seiring dengan pemulihan ekonomi, permintaan terhadap kredit juga ikut bangkit. 

"Itu namanya kebijakan makroprudensial, agar bank bisa lebih longgar menyalurkan kreditnya. Kalau kredit enggak tumbuh, ya ekonomi susah juga mau tumbuh ya kan," pungkasnya. 

 

EDITOR

Wandi Barboy


loading...



Komentar


Berita Terkait