#dbd

Bertambah Tujuh, Warga Lamtim Terserang DBD Mencapai 76 Orang

Bertambah Tujuh, Warga Lamtim Terserang DBD Mencapai 76 Orang
Petugas dari Dinkes Lamtim melakukan penyemprotan di Kecamatan Metrokibang beberapa waktu lalu. (Foto: Dok Dinkes Lamtim)


Sukadana (Lampost.co) – Hampir dua pekan bertambah lagi tujuh warga Lampung Timur (Lamtim) terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD). Dengan adanya tambahan tujuh orang tersebut, maka hingga Rabu  (23/2/2022) tercatat sudah 76 warga Lamtim yang terserang DBD.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamtim, dr. Nanang Salman,menjelaskan, sebelumnya jumlah warga Kabupaten Lamtim yang terserang penyakit DBD masih 69 orang. 

“Hampir dua pekan atau 12 hari kemudian jumlahnya bertambah lagi tujuh  orang. Dengan adanya tambahan tujuh orang itu  maka jumlah warga Lamtim yang terserang penyakit DBD tersebut hingga Rabu  (23/2/2022) menjadi 76 orang,” kata dr. Nanang melalui telepon, Rabu, 23 Februari 2022. 

Adapun  tambahan tujuh warga Lamtim yang terserang DBD itu tersebar di wilayah Kecamatan Pasirsakti, Sekampungudik, Wayjepara, Labuhanmaringgai, Bandarsribhawono, Sukadana, dan Purbolinggo, masing-masing satu orang.

Baca juga: DBD Melonjak, Puskesmas Imbau Warga Natar Jaga Kebersihan

Karena serangan penyakit DBD terus berlanjut, dr. Nanang kembali mengingatkan seluruh warga Lamtim terus meningkatkan kewaspadaan. 

Peningkatan kewaspadaan warga itu dilakukan dengan aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3 M plus yaitu menguras tempat yang sering menjadi penampungan air seperti bak mandi, kendi, toren air, drum, dan tempat penampungan air lainnya. 

Kemudian, menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum dan mengubur barang bekas di dalam tanah agar tidak membuat lingkungan semakin kotor dan dapat berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Lalu memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang), yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah.

Selain itu, melakukan upaya pencegahan seperti memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, gotong royong membersihkan lingkungan, meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup, dan lain-lain.

Dokter Nanang menambahkan selain sosialisasi rutin serta penyelidikan epidemiologi, pihaknya juga melakukan abatisasi, penyemprotan atau pengasapan fokus di lokasi daerah penularan, dan lain-lain.  

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait