#beritalampung#beritamesuji#infrastruktur

Berlumpur, Akses Jalan Pertanian di Mesuji Dikeluhkan Petani

Berlumpur, Akses Jalan Pertanian di Mesuji Dikeluhkan Petani
Gabah petani harus diangkut dengan ojek untuk dapat keluar dari sawah. Lampost.co/Ridwan Anas


Mesuji (Lampost.co): Petani di Kecamatan Mesuji dan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji mengeluhkan kondisi buruknya jalan usaha tani di wilayah setempat.

Kusnadi, petani asal Desa Tirtalaga, Kecamatan Mesuji, mengatakan jika buruknya kondisi jalan membuat pengeluaran petani semakin membengkak saat mengangkut hasil panen mereka. 

Hal yang sama juga diutarakan Ronggo, petani asal Desa Sumbermakmur, Kecamatan Mesuji. Dirinya menuturkan harus membayar Rp20.000 per karung kepada pemberi jasa ojek untuk mengeluarkan hasil panen mereka dari lahan pertanian. 

Baca juga: Gudang Penimbunan BBM Subsidi di Lampura Digerebek

"Dalam satu hektare menghasilkan sekitar 3 sampai 4 ton gabah yang dikemas menjadi sekitar 100 karung. Per karung biaya angkutnya Rp20.000 dengan jarak tempuh sekitar 15 km. Ongkos itu naik semenjak naik juga harga BBM," kata Ronggo, Selasa, 13 September 2022.

Mahalnya ongkos angkut tersebut semakin memperparah kondisi petani yang dalam musim tanam ini padi banyak yang mengalami patah leher.

"Biaya per hektare Rp12 juta dengan masa 4 bulan. Musim gadu ini banyak yang patah leher. Tapi untung harga gabah kering panen (GKP) cukup tinggi yakni Rp4.550 per kg," kata dia. 

Masyarakat pun berharap jalan usaha tani dan infrastruktur pendukung lain dapat diperbaiki sesegera mungkin oleh pemerintah setempat. 

"Kami ini tak butuh bantuan langsung tunai (BLT), kami hanya ingin jalan diperbaiki. Kami sengsara dengan buruknya jalan ini," kata Supri warga Desa Sumbermakmur.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait