#mimbar#pandemi#ekonomi

Berkelit di Masa Sulit

Berkelit di Masa Sulit
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. Dok MI


BEBERAPA hari terakhir ini mulai bermunculan tulisan tentang 'kiat menambal uang belanja di tengah kenaikan harga-harga kebutuhan pokok'. Kiat-kiat itu disampaikan para konsultan keuangan melalui sejumlah portal berita. Tujuannya agar pembaca mendapatkan inspirasi dan referensi jurus berkelit di masa sulit.


Bagi sebagian orang, isi dari konsultasi gratis itu tidak baru. Lebih-lebih lagi bagi rumah tangga 'gaek' yang sudah bertubi-tubi dihantam melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Beragam kiat tersebut bisa dianggap basi. Buang-buang waktu.

Saran agar mengganti goreng-gorengan dengan rebus-rebusan, beralih dari daging sapi ke ayam dan ikan, memperkecil irisan tahu dan tempe sebelum dibacem, mungkin malah bisa membuat pening keluarga lawas ini. Bisa dianggap menggarami lautan. Makin membuat hidup lebih 'asin'.

Namun, bagi keluarga baru, lebih-lebih yang baru merasakan era kesulitan sekali ini, nasihat keuangan itu cukup membantu. Minimal bisa menjadi semacam balsam pereda pening sementara waktu. Namun, sampai kapan pereda sakit kepala itu efektif berfungsi?

Jawabannya tergantung sejauh mana pemangku kebijakan di negeri ini mampu mengatasi keadaan. Naga-naganya keadaan belum bisa dikendalikan. Jurus mengguyur pasokan sejumlah kebutuhan pokok belum ampuh memaksa harga-harga turun.

Loh, kok bisa? Bisa saja kalau pemangku kebijakan, khususnya Kementerian Perdagangan, melihat kenaikan harga kebutuhan utama ini melulu dari perspektif pasokan dan permintaan. Dalam sudut pandang kacamata kuda seperti itu, ketika pasokan terpangkas, sedangkan permintaan tetap (bahkan meningkat), obatnya pasti: mengguyur pasokan.

Itulah yang dilakukan saat harga minyak goreng melambung tinggi. Indonesia sebagai pemilik lahan sawit terbesar di dunia, nyatanya tetap engap-engapan dihantam harga minyak goreng tinggi. Hingga pekan ini, guyuran minyak goreng ke pasar dengan anggaran triliunan rupiah itu belum bisa menstabilkan harga.

Meski pemerintah telah memberikan subsidi dan menentukan harga eceran tertinggi (HET) baru, kebijakan itu nyatanya belum efektif.

Terbukti di sejumlah daerah di Indonesia harga minyak goreng masih di atas HET Rp11.500 per liter untuk minyak curah, di atas Rp13.500 per liter untuk minyak goreng kemasan sederhana, dan lebih dari Rp14 ribu per liter untuk minyak goreng kemasan premium.

Dari hasil riset Ombudsman RI di Provinsi Riau, Sumatra Selatan, dan DKI Jakarta, misalnya, harga minyak goreng curah masih dibanderol Rp12 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Di Lampung, operasi pasar sudah digencarkan, tapi harga belum turun signifikan. Fakta bahwa selalu ada yang bermain di lahan becek, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, memancing di air keruh, tidak sepenuhnya diantisipasi.

Para pemain ini menempuh sejumlah cara. Saat mereka sudah menikmati subsidi harga dari pemerintah, mereka memborong barang lalu menahan distribusi barang itu di gudang. Barang pun kian langka di pasaran. Barang baru dikeluarkan lewat pintu belakang dengan harga tinggi, untuk dinikmati selisih harganya.

Negeri ini tidak selalu kalah oleh kasus yang kasatmata dan bukan kali ini saja terjadi tersebut. Persoalannya tidak melulu masalah pasokan dan permintaan. Pada 2018 dan 2019, misalnya, operasi besar-besaran tim Satgas Pangan sukses memberangus para pemain curang tersebut, terutama saat hari besar keagamaan. Dampaknya, harga kebutuhan pokok stabil dalam kurun tersebut, bahkan di kala hari raya yang biasanya diikuti naiknya harga-harga.

Rakyat rindu kerja sama dan ketegasan tim seperti itu. Apalagi, belitan kesulitan karena kepungan harga sudah ke mana-mana. Masalah minyak goreng belum selesai, harga tahu dan tempe juga ikut-ikutan naik karena lonjakan harga kedelai. Terbaru, harga daging sapi dan harga gula pasir juga ikut-ikutan melambung.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan lagi balsam, bukan sekadar jurus berkelit, melainkan sudah infus dan oksigen berlimpah untuk menyambung napas. Menggerakkan tim Satgas Pangan (yang di dalamnya ada anggota kepolisian) terbukti bisa menjadi cara ampuh jangka pendek hingga menengah untuk mengatasi keadaan. Ia bisa mengubah balsam menjadi infus dan oksigen untuk sementara waktu.

EDITOR

Winarko


loading...



Komentar


Berita Terkait