#MAFIATANAH

Berkas Mafia Tanah Malang Sari Belum Lengkap

Berkas Mafia Tanah Malang Sari Belum Lengkap
Ilustrasi. Dok. Lampost


Bandar Lampung  (Lampost.co) -- Penyidikan perkara mafia Malangsari, Lampung Selatan, masih berproses. Kejaksaan Tinggi Lampung telah meneliti, berkas tahap I yang dilimpahkan oleh penyidik Polda Lampung. Hasilnya, masih ada hal yang perlu dilengkapi oleh penyidik, baik syarat formil maupun materil.

"Sementara P19 (berkas dinyatakan belum lengkap), sudah kami kirm ke penyidik,  kemarin dan sampai saat ini berkas belum kembali lagi," ujar  Kasipenkum Kejati Lampung, I Made Agus Putra, 25 Oktober 2022.

Direktur LBH Bandar Lampung, Suma Indra Jawardi mengatakan, informasi yang ia dapat, penyidik masih fokus melengkapi petunjuk jaksa, agar berkas perkara tersebut dinyatakan lengkap, dan segera sidang. "Kemarin masyarakat dipanggil lagi oleh penyidik," kata dia.

Dalam perkara ini, lima orang ditetapkan tersangka, dengan peran yang berbeda.

Dirkrimum Polda Lampung, Kombes Reynold EP Hutagalung mengatakan, untuk Kades SYT peranannya pada Juni 2020, membuatkan surat keterangan palsu atau lokasi objek tanah milik seorang pensiunan polisi berpangkat AKP inisial SJO (80). Kemudian tanah itu dibeli oleh Jaksa AM.

Semula lahan yang bermasalah itu terletak di Lampung Timur dan sekarang beralih menjadi Desa Malangsari, Kecamatan Tanjungsari, Lampung Selatan.

"Tersangka SYT digunakan oleh AM, sebagai dokumen pendukung permohonan penerbitan sertifikat hak milik (SHM). Dengan membuat surat keterangan itu, Kades SYT mendapatkan imbalan uang Rp1 juta," kata dia.

Sementara peran SHN yang merupakan Camat Sekampung Udik yang kini menjabat Kepala Satpol PP Lampung Timur, menguatkan surat yang dibuat Kades SYT. SHN membubuhkan tanda tangan dan cap stempel Kecamatan Sekampung Udik.

"Surat itu dibuat palsu pada 2020, dengan lokasi objek tanah milik tersangka SJO, kemudian dibeli jaksa AM. Sehingga surat itu digunakan sebagai dokumen pendukung permohonan penerbitan SHM," kata dia.

EDITOR

Deni Zulniyadi


loading...



Komentar


Berita Terkait