#kehutanan#ccep

Berkaca pada Hanami, Menjaga Harmoni Hutan dan Manusia

Berkaca pada Hanami, Menjaga Harmoni Hutan dan Manusia
Kepala Dinas Kehutanan Lampung Yayan Ruchyansyah dalam media gathering CCEP Indonesia-Lampung secara virtual dan luring di Kafe Kopi Sudut, Bandar Lampung, baru-baru ini. Dok Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Restorasi hutan Lampung menjadi keniscayaan. Dari satu juta hektare hutan di Lampung, 564.000 ha di antaranya kewenangan provinsi. Dinas Kehutanan provinsi menyebutkan sebanyak 86 persen merupakan block pemanfaatan. Di dalamnya terdapat aktivitas manusia hingga keberadaan bangunan fisik.

Sebanyak 221 desa definitif berada di dalam hutan. Dari data tersebut, ada lima desa yang bahkan berada di dalam hutan lindung. Kondisi itu berisiko merusak fungsi-fungsi hutan jika tidak dikelola dengan baik.

Ketua Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Lampung M.D. Wicaksono mengatakan sebanyak 37 persen area hutan rusak. Angka tersebut dipastikan terus bertambah tanpa restorasi dan inovasi dalam pemanfaatan hutan secara efektif.

"Budaya hanami dari Jepang bisa diadopsi untuk memanfaatkan hutan sambil menjaga kelestarian ekosistem," kata pria yang akrab disapa Soni, dalam media gathering CCEP Indonesia-Lampung secara virtual dan luring di Kafe Kopi Sudut, Bandar Lampung, Senin, 13 September 2021.

Media gathering tersebut mengusung tema Merangkai Harapan untuk Keberlanjutan Hutan Sumatera. Hadir pula narasumber webinar lainnya yakni Ardhina Zaiza selaku Head of Corporate Communication CCEP Indonesia, Kepala Dinas Kehutanan Lampung Yayan Ruchyansyah, dan Ayi Ahadiat selaku Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Lampung/Korwil Indonesia Barat.

Di hadapan para pewarta, Soni menjelaskan hanami adalah tradisi berkumpul di bawah pohon sakura untuk menikmati keindahan bunga. Warga hanya datang melihat bunga, tanpa memetiknya.

"Inovasi pemanfaatan hutan untuk pariwisata bisa menyejahterakan warga sekaligus memulihkan hutan," kata Soni.

Pengembangan wisata ekologi menjadi solusi atas polemik manusia dengan segenap flora dan fauna hutan. Ia menyebut tiga potensi wisata ekologi hutan Lampung yakni hutan damar, mangrove terintegrasi, dan hasil hutan bukan kayu. "Repong damar di Pesisir Barat sangat tepat dikembangkan. Keindahan pantai Pesisir Barat sudah tersiar. Usaha damar warga bisa menjadi daya tarik wisatawan, sekaligus tetap mempertahankan zona penyangga sekitar TNBBS," kata Soni.

Sementara wisata ekologi hutan mangrove amat tepat diintegrasikan dengan wisata pantai. Beberapa titik yang tepat dikembangkan yakni Teluk Lampung, Pulau Kelagian, dan Pulau Pahawang. "Mangrove Petengoran yang kini ramai dikunjungi pelancong menjadi bukti besarnya potensi wisata ekologi," ujarnya. Menurut Soni, masih banyak area mangrove lain yang bisa menjadi kawasan wisata alam.

Selain itu, besarnya hasil hutan bukan kayu juga menjadi modal wisata ekologi. Sebut saja Tahura yang menghasilkan madu dan aren melimpah. "Dipandu tour guide, berwisata melihat proses panen madu hingga bisa dinikmati langsung tentu sangat menarik. Paket wisata mesti dikemas apik sehingga wisatawan bisa mendapat pengalaman tidak terlupakan," kata dia. Model kemitraan pemerintah dan warga akan menjadi win-win solution bagi semua pihak dalam pengembangan wisata ekologi.

Hijrah Ekologi

Ayi Ahadiat selaku Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Lampung/Korwil Indonesia Barat mengatakan peningkatan produksi hasil hutan bukan kayu pada tahun ini merupakan potensi sekaligus ancaman. "Bisa jadi hasil hutan bukan kayu bertambah karena kayu hutan itu sendiri sudah habis akibat illegal logging warga ataupun korporasi," kata Ayi.

Hijrah ekologi mendesak digencarkan demi mempertahankan hutan melalui pembinaan. Membumikan pendekatan kreatif akan mendukung proyeksi pertumbuhan ekonomi sebanyak 7% pada 2022. "Air merupakan faktor produksi utama. Sementara hutan adalah daerah tangkapan air. Jika hutan tidak lestari maka perekonomian pasti terganggu," ujarnya.

Saatnya masyarakat hijrah ekologi karena hutan adalah warisan untuk anak cucu kelak. "Penting membangun kesadaran lingkungan menjaga hutan, dari yang tadinya berbasis pada pendekatan ekstraktif menjadi kreatif," kata dia.

Kepala Dinas Kehutanan Lampung Yayan Ruchyansyah mengapresiasi kepedulian CCEP Indonesia dalam merangkai harapan untuk keberlanjutan hutan Sumatra. "Dalam menjaga hutan lestari, Dinas Kehutanan membutuhkan tangan-tangan baik dari berbagai sektor, termasuk CCEP," kata dia.

Ragam konflik yang terjadi selama ini harus disikapi dengan meningkatkan sinergisitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat yang bermukim di sekitar dan di dalam hutan itu sendiri. "Konflik hutan selama ini dilatari masalah kesejahteraan masyarakat. Karena itu, segala potensi yang dihasilkan hutan harus dimaknai untuk meningkatkan taraf ekonomi warga. Mari meningkatkan nilai ekonomi hutan dengan tetap mempertahankan kelestariannya.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait