#humaniora#pendidikan#beritalamsel

Belajar Daring Dikeluhkan Orang Tua di Sragi

( kata)
Belajar Daring Dikeluhkan Orang Tua di Sragi
Ilustrasi belajar di rumah. Foto: Dok

Kalianda (Lampost.co): Proses kegiatan belajar mengajar dalam jaringan (daring) atau online selama pandemi virus Covid-19 menimbulkan keluhan bagi sejumlah orang tua atau wali murid di Kecamatan Sragi, Lampung Selatan. Sebab, pembelajaran dengan sistem daring ini dinilai tidak efektif.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, sistem belajar mengajar secara daring di Lamsel kembali di perpanjangan hingga 30 September mendatang. Perpanjangan masa belajar di rumah itu tertuang dalam Surat Edaran Bupati Nomor 05 Tahun 2020 hingga ada keputusan Presiden tentang berakhirnya status bencana nasional nonalam yakni Covid-19.

Kepala Desa Sumberagung Ali Rohim mengatakan sistem belajar mengajar daring yang diperpanjang hingga 30 September mendatang semakin menambah beban orang tua. Bahkan, belajar seacara daring itu dinilai tidak efektif.

"Belajar daring ini bukan membuat anak tambah pintar. Tapi, belajar daring ini seperti pembodohan, kurang efesien dan belum bisa diterapkan di sini," kata dia, Selasa, 4 Agustus 2020.

Ali mengatakan selama ini masyarakat banyak yang berdatangan mengeluhkan dengan sistem daring tersebut. Sebab, dalam belajar daring ini dinilai kurang efisien, belum lagi beban orang tua bertambah lantaran harus memberikan pendampingan kepada anak.

"Warga saya sudah banyak yang ngeluh dengan kami, termasuk saya. Selain, beban bertambah untuk pendampingan, ada juga orang tua yang tidak mampu harus membeli telepon seluler (ponsel) pintar agar anaknya bisa ikut belajar daring," ujarnya.

Dia berharap, Pemkab Lamsel bisa mencarikan solusi terbaik dan kembali menerapkan sekolah secara normal. Sebab, sektor pasar dan lokasi wisata saat ini telah dibuka, namun belajar mengajar belum diizinkan.

"Harapan kami, sebagai orang tua pemerintah bisa kembali menerapkan belajar di sekolah. Sebab, saat ini pasar, mall dan tempat wisata pun sudah dibuka. Sementara untuk belajar mengajar di sekolah belum di izinkan," katanya.

Hal senada diungkapkan, Anwar, salah satu wali murid di Kecamatan Sragi mengatakan sistem belajar daring dinilai tidak efektif. Bahkan, dirinya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi pembalajaran demgam sistem daring. 

"Mau enggak mau, kami harus beli handphone android. Belum lagi beli kuota internet supaya bisa belajar secara daring," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...

Berita Terkait

Komentar