#Refleksi

Beban Berat Lampung

Beban Berat Lampung
Ilustrasi. Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN) yang dinyatakan terkonfirmasi positif covid-19 tiba di Rusunawa guna dilakukan isolasi. Dok Lampost.co


PELATUN lagu Aku Memilih Setia, Fatin Shidqia Lubis harus pasrah. Selama di karantina, hatinya bercampur aduk. Takut tapi semangat ingin cepat sembuh. Belakangan, dia diketahui  terpapar Covid-19 dan harus dirawat di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kini, wanita ayu itu dinyatakan sudah sembuh dan diperbolehkan kembali pulang ke rumah.

Tidak hanya Fatin yang positif virus corona. Dia bersama komika Arafah Rianti harus merelakan diri diisolasi agar tidak menularkan Covid-19 kepada teman atau keluarganya. Dalam kanal YouTube-nya, Fatin merasakan awal mula teridentifikasi  Covid-19 ketika satu acara dengan Arafah. Dirinya ada rasa sakit di tubuh serta gejala radang.

“Awalnya merasa radang tenggorokan dan sempat ke dokter. Lalu dikasih obat. Tapi makin lama kok makin enggak enak badan. Itu sampai dua hari. Sedangkan kalau radang atau demam jika sudah dikasih obat, beberapa jam sudah enak,” cerita Fatin dalam video yang diunggah pada Selasa (25/5).

Beberapa hari kemudian, Fatin dijadwalkan menyanyi. Dia pun langsung melakukan tes antigen. Dari situlah, dia tahu positif Covid-19. Saat radang tenggorokan, dirinya demam dengan suhu tubuh tubuh 40 derajat Celsius. Untuk kebaikan bersama, Fatin langsung melakukan isolasi mandiri selama tiga pekan di Wisma Atlet.

Dalam unggahannya di Instagram, Rabu, (26/5), Fatin pun berucap lolos dari positif Covid-19 sebuah nikmat. Dia mendapat pelajaran yang sangat berharga setelah dinyatakan positif dan harus dirawat.  “Berdiri saja tidak sanggup sampai pingsan. Apalagi berjalan. Harus pakai bantuan oksigen. Susah tidur dan sakit semua. Pengalaman yang enggak akan aku lupain, yang bener-bener makin mengapresiasi kesehatan,” tulisnya.

Fatin pun berpesan kepada khalayak untuk tetap menjaga kesehatan dan tidak termakan isu hoaks terkait Covid-19. Berbekal dari pengalaman isolasi di Wisma Atlet, dia juga menyampaikan ketika tubuh merasa tidak enak, cepat-cepat mengecek gejala serupa Covid-19 dengan tes dan isolasi.

“Betapa tubuh kita ini bisa kuat banget, bisa rapuh juga. Jaga kesehatan. Selain itu, saat ini pandemi Covid-19 masih ada, tetapi ada juga penyakit lain. Ya memang harus jaga kesehatan, dan jangan menyebarkan hoaks. Jangan karena keegoisan diri sendiri, malah berimbas kepada orang lain juga.”

Itulah cerita Fatin–bagaimana dia berjuang sembuh dari Covid-19. Wabah corona yang sudah setahun tiga bulan melanda Indonesia juga dunia belum ada tanda-tanda mereda. Tren angka penularan sempat melandai, sejak 20 Mei lalu. Usai libur Idulfitri 1442H angka kasus harian kembali berada di atas 5.000. Angka itu, berapa pun jumlahnya adalah kabar buruk.

Buruk karena anak-anak bangsa melalaikan protokol kesehatan (prokes), memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Bahkan, warga juga masih berkerumun dan tidak mengurangi aktivitasnya. Angka kenaikan pasca-liburan adalah peringatan bahwa masa darurat pandemi belum usai. Bahkan penularan kian masif karena virus sudah membentuk varian baru.

Kebijakan larangan mudik Lebaran selama 6—17 Mei lalu, berhasil menekan kenaikan kasus positif hanya 5%. Tapi, rakyat mengakalinya dengan mudik lebih awal juga balik dari kampung halaman di akhir masa larangan. Apa yang terjadi?  Kementerian Perhubungan mencatat, pasca-larangan mudik berakhir 18 Mei, ternyata terjadi pergerakan penumpang 279 ribu orang atau naik 191,6% ketimbang sehari sebelumnya tercatat 95 ribu orang.

***

Kenaikan arus penumpang–secara terang benderang terjadi di Lampung. Provinsi di ujung Sumatera ini melakukan penyekatan bagi penumpang di tujuh ruas tol dan jalan lintas. Hasilnya? Terdeteksi 889 pemudik terpapar Covid-19 per Kamis (27/5). Renungkan jika pelarangan itu diperpanjang sampai 31 Mei nanti? Angkanya dipastikan akan menyentuh 1.000 orang.

Mereka diisolasi di beberapa rumah sakit dan fasilitas publik di Lampung. Persoalannya adalah mampukah rumah sakit menampung pasien Covid-19? Jangan-jangan imbas diisolasi di Lampung ini, angka Covid-19 daerah ikut naik juga karena rentan penularan. Pemeriksaan wajib itu tidak ada alasan lain, karena Lampung ingin menyelamatkan Jawa dari penularan virus.

Setiap pelaku perjalanan yang melewati pos penyekatan dilakukan swab test antigen. Lampung menyiapkan 52 ribu alat rapid test antigen. Sebanyak 12 ribu alat dari Dinkes Lampung dan 40 ribu dari pihak KKP. Wajar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Kepala BNPB sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengapresiasi kerja keras Lampung.

“Kami sangat mengapresiasi kerja terstruktur Satgas Penanganan Covid-19 Lampung sehingga banyak terjaring penumpang terpapar Covid-19,” kata Budi dan Doni, Sabtu (22/5). Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Polda, serta Korem terus memperketat arus penumpang menuju Jawa. Bumi Ruwa Jurai ini jika tidak kompak menangani virus, apa jadinya pulau seberang?

Sejak awal diingatkan Arinal bahwa gubernur se-Sumatera agar bahu-membahu melakukan penyekatan lokal jika warganya ada mudik pulang kampung, dan kembali ke perantauan. Ternyata keinginan tulus Lampung itu tidak dihiraukan para pemangku kepentingan provinsi lainnya. Buktinya hingga Kamis pekan ini, terjaring warga di luar Lampung terpapar virus di pos penyekatan menyentuh 889 orang. Jumlah yang tidak sedikit!

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Lampung, Reihana bersama tim terpadu mengaktifkan posko-posko penyekatan untuk menjaring pelaku perjalanan orang tanpa gejala (OTG) untuk dikarantina. Pemilik hotel yang ada di kabupaten dan kota dinego agar bisa dijadikan tempat isolasi bagi OTG. ”Kebanyakan pelaku perjalanan ini tanpa gejala,” kata Reihana.

Jangan dianggap remeh! Wajar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengimbau pemerintah daerah di Pulau Sumatera menekan pergerakan orang  yang melakukan perjalanan ke luar daerah diharuskan melakukan tes antigen atau PCR di daerah asal. “Jika imbauan dipatuhi, semua penumpang yang terpapar Covid-19 tidak menumpuk di Lampung,” kata  Ketua IDI Bandar Lampung Aditya M Biomed, pekan ini.

Dokter ini mendesak Pemerintah Pusat untuk membantu Lampung agar penumpang yang terjaring Covid-19 itu tidak semuanya dibebankan ke Lampung. “Ini kan kami jadi kelabakan, tempat isolasi bagi positif pelaku perjalanan sudah penuh? “ kata dia. Kini hotel dan asrama haji juga dibidik untuk mengisolasi warga dari luar Lampung. Siapa yang menanggungnya?!

Yang jelas persoalan yang dihadapi selain mengisolasi pelaku perjalanan adalah suplai makanan, vitamin, obat-obatan, air bersih. Kebutuhan mereka yang menanggungnya, siapa? Mereka bukan warga daerah ini. Tapi karena nasionalisme dalam bingkai keindonesiaan, semua ini dilakukan Lampung demi menyelamatkan nyawa anak-anak bangsa. Ini sangat mulia! ***

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait