Teatersatu

Ayu Permata Dance Project dan Teater Satu Suguhkan Pertunjukan 'X'

Ayu Permata Dance Project dan Teater Satu Suguhkan Pertunjukan 'X'
Ayu Permata Sari saat menyuguhkan Pertunjukan Karya X di Studio Teater Satu Lampung, Jalan Imam Bonjol, Gg Waluh 7 No 45, Kemiling, Bandar Lampung, Minggu, 29 November 2020. Dok. Teater Satu Lampung


Bandar Lampung (Lampost.co)-- Ayu Permata Dance Project dan Teater Satu Lampung menyuguhkan Pertunjukan Karya X. Pertunjukan seni tersebut digelar Studio Teater Satu Lampung, Jalan Imam Bonjol, Gg Waluh 7 Nomor 45, Kemiling, Bandar Lampung, Sabtu-Minggu, 28-29 November 2020. Karya "X" dari Ayu Permata Sari seniman asal Kota Bumi, Lampung Utara ini merupakan pementasan keempat.

Pentas pertama digelar di Teater Salihara Jakarta, pentas kedua di Sumatera Barat, pentas ketiga di IFI-LIP Yogyakarta dan pentas keempat di Teater Satu Lampung. Adapun koreografer dan penari dalam pertunjukan itu ialah Ayu Permata Sari dan dramaturg Nia Agustina. Pertunjukan tersebut juga mengikuti protokol kesehatan pencegahan covid-19 dengan wajib menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan menggunakan sabun serta mengukur suhu tubuh sebelum penonton masuk kedalam teater.

Seni pertunjukan berjudul "X" berangkat dari esensi motif samber melayang dalam tari sigeh punguten atau tari persembahan transitional Lampung. Pada perkembangannya, karya "X" menjadi komunikasi antar koreografer dan tubuhnya, antar manusia dan perangkatnya, antar jiwa dan raga yang telah menumpuk pengalaman masa lalu dalam hidupnya. Sehingga dalam pertunjukan, sublimasi dari semua itu muncul begitu saja. "Prosesnya adalah saya mencoba esensi motif samber melayang dalam tari sigeh punguten kanan kiri, depan belakang, dan tutup buka. Saya juga mencoba menggambar garis dan saya menemukan gerak gesekan," kata Ayu Permata Sari usai pentasnya kepada Lampost, Minggu, 29 November 2020.

Kemudian ia mengatakan dalam karya "X", Ayu Permata ingin menyampaikan bahwa kata kuncinya yakni keseimbangan dan kestabilan atau ying dan yang. Ia mengeksplorasi gerak tubuhnya terjadi bentuk "X" dan terjadi transisi antara tubuhnya sebagai penari. Karya ini adalah pengembangan motif “samber melayang”, salah satu motif dalam Tari Sigeh Penguten (Siger Penguntin), sebuah tarian kreasi dari Lampung.

Tarian ini mulanya adalah tari persembahan atau penyambutan untuk orang-orang terhormat, tetapi kali ini akan dilakukan tanpa musik, menggunakan kostum keseharian yang sederhana. "Judul X mengandung konsep dua hal yang saling berhubungan yakni digambarkan dengan dua garis bersilang, bertemu di satu titik, keseimbangan, kesejajaran.

Hanya huruf X yang memiliki garis sama panjang, saling menyilang tanpa ada yang dominan. Motif Samber Melayang bentuknya juga tangan saling menyilang membentuk X," katanya.

EDITOR

Dian Wahyu Kusuma

loading...




Komentar


Berita Terkait