#Lingkungan#penghargaan#konflikGajah

Atasi Konflik dengan Gajah, Suhadak Diganjar Penghargaan

Atasi Konflik dengan Gajah, Suhadak Diganjar Penghargaan
Ilustrasi konflik gajah dan manusia.


Sukadana (Lampost.co)--Konflik manusia dengan satwa dilindungi masih terus terjadi dalam perebutan lahan. Namun, konflik tersebut justru membawa berkah buat Suhadak.  Warga Desa Braja Harjosari, Kecamatan Brajaselebah itu meraih penghargaan bergengsi Kalpataru 2021. Prestasi pria kelahiran 1970 itu berangkat dari rasa keprihatinan atas peristiwa konflik antara gajah dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan warga desa penyangga di sekitarnya.

Konflik berkepanjangan sejak awal era 2000-an hingga puncaknya pada 2012 itu banyak menguras energi, harta benda, bahkan mengancam jiwa manusia. Suhadak turut merasakan dampak konflik karena beberapa hektare tanaman padi dan jagungnya selalu kerap gagal panen karena kawanan hewan berbelalai panjang yang jerap keluar dari kawasan TNWK itu memakannya.

Masyarakat pun melakukan berbagai upaya, termasuk melakukan demonstrasi. Bahkan, karena tidak ada hasil, masyarakat sempat memiliki pikiran ekstrem, manusia atau gajah yang mati.

“Mungkin munculnya pikiran ekstrem itu karena kami sudah lelah menghadapai konflik dengan gajah,” kata laki-laki yang berprofesi sebagai penyuluh kehutanan swadaya masyarakat (PKSM) Register 38 Gunung Balak dan TNWK itu.

Jalan mulai terbuka saat sejumlah pihak itu mulai tertarik mengetahui secara langsung mengenai konflik dan mengamati langsung aktivitas  nyata kehidupan masyarakat desa penyangga. Kemudian muncul gagasan cemerlang adanya wisata pengamatan satwa liar hingga penggiringan gajah dan wisata desa. 

Keyakinan itu terbukti karena upaya bapak satu putra itu terus berkembang. Modelnya, 80% bagi wisata desa dan 20% untuk wisata satwa di kawasan TNWk.

“Semua potensi desa khususnya di daerah penyangga kini berkembang dan menghasilkan bagi masyarakatnya. Ternyata keyakinan saya benar di balik konflik berkepanjangan antara gajah dan manusia itu pasti ada hikmah,” katanya.

Dia tidak menyangka upayanya itu juga berbuah penghargaan Kalpataru. 2021 untuk kategori pembina lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Saya tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan Kalpataru. Karena pada dasarnya upaya yang saya lakukan itu murni dan ikhlas membantu masyarakat dengan tetap memperhatikan dan melestarikan lingkungan baik itu flora maupun faunanya,” ujarnya.

EDITOR

Sri Agustina

loading...




Komentar


Berita Terkait