#petambakudang#tulangbawang

Asa Petambak Udang Bratasena dari Energi PLN

Asa Petambak Udang Bratasena dari Energi PLN
Petambak udang di Bratasena, Tulangbawang, merasakan listrik PLN. Dok PLN


Menggala (Lampost.co) -- Raut bahagia tampak di wajah Cecep Abdul Mukti. Pasalnya, petambak udang mandiri eks plasma PT Central Pertiwi Bahari Bratasena (CPB), Desa Adiwarna, Kecamatan Dente Teladas, Tulangbawang itu kini merasakan aliran listrik PLN. 

Dia mengelola tiga petak tambak berukuran 75 x 75 meter dengan kapasitas tebar hingga 500 ribu benur. Bahkan, saat listrik PLN belum ada, tambaknya mampu menebar satu juta benur. 

“Dulu di jaman listrik CPB, pernah saya tebar 1 juta benur dan hasil panennya mencapai 12 hingga 17 ton udang,” kata Cecep Abdul Mukti.

Ketiga tambak yang dikelolanya tergolong besar dengan modal mencapai Rp60 juta per tambak. Selain cuaca, listrik sebagai penggerak mesin kincir menjadi faktor penentu utama kesuksesan mengelola tambak. 

Saat tidak tersedianya listrik dari CPB dan belum tersedianya listrik PLN, petambak memakai mesin genset dengan kemampuan yang terbatas dan biaya operasional yang mahal. Masalah lainnya yang akan dihadapi juga datang ketika genset rusak. 

“Kami pasti sangat rugi, karena genset yang kami pakai terbatas, tidak mampu dinyalakan selama 24 jam. Apalagi, sekarang genset kami sedang rusak sehingga terpaksa harus panen sebelum waktunya di umur 48 hari,” ujarnya. 

Hal senada juga diungkapkan Mariyadi, warga Bratasena Mandiri yang puluhan tahun mengelola tambak. Tingginya operasional genset dan biaya BBM solar menambah berat beban petambak. 

Dia sangat merasakan bahagia dengan hadirnya PLN sebagai solusi ketersediaan listrik di daerahnya. “Saat saya budidaya, kami menggunakan genset itu berat dengan biaya operasional untuk membeli solar mahal, membeli suku cadang dan oli sangat susah disini,” kata Mariyadi.

Selain di Dipasena, Bratasena juga menjadi pusat pembudidayaan udang terbesar di Provinsi Lampung. Bahkan Pemerintah terus mendorong untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara penghasil udang terbesar se Asia Tenggara pada 2024. 

Untuk itu energi listrik menjadi faktor utama yang dibutuhkan sebagai penggerak kincir dalam berbudidaya udang. Sebab, perkembangan udang sangat ditentukan dengan adanya kincir. Dengan ketersediaan listrik PLN, mengembalikan harapan petambak yang dulu sirna. 

Hal itu yang dibuktikan PLN UID Lampung untuk mewujudkan lumbung udang terbesar di Asia Tenggara pada Sabtu, 20 Maret 2021. 

General Manager PLN UID Lampung, I Gede Agung Sindu Putra, didampingi Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan Bagus H Abrianto dan Manajer PLN UP3 Metro Joko Nur Astanto beserta rombongan meninjau langsung progres pemasangan kWh meter.

Hal itu untuk memastikan seluruh calon pelanggan PLN di desa Adiwarna dan desa Mandiri Bratasena terlayani dan menyala. Sebab, terlihat banyak sekali potensi pelanggan di daerah tersebut. 

“Ada sekitar lebih dari 1000 calon pelanggan di sini, tetapi saat ini sebanyak 200 pelanggan yang memenuhi aspek teknis dan administrasinya untuk diproses dan dinyalakan hari ini,” kata I Gede Agung.

Pihaknya berkomitmen untuk menyelesaikan progres penyalaan dengan cepat bagi calon-calon pelanggan yang memenuhi aspek teknis dan administrasinya. 

Di samping itu, PLN UID Lampung juga terus berupaya menyelesaikan desa-desa yang belum berlistrik dan diharapkan 2022 selesai 100 persen. 

Untuk menjamin keberlangsungan pasokan listrik kepada masyarakat khususnya di eks plasma CPB Bratasena, PLN UID Lampung menyediakan posko Pelayanan Teknik 24 Jam di bawah pengawasan PLN UP3 Metro yang siap membantu pelanggan mengatasi gangguan dan keluhan listrik. 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait