#vaksinrabies#rabies#antirabies#beritalampung

Aplikasi Isikhnas Informasikan Kasus Rabies

Aplikasi Isikhnas  Informasikan Kasus Rabies
SUNTIK VAKSIN. Seekor anjing diberi suntik vaksin rabies, beberapa waktu lalu. Dinas Peternakan Provinsi Lampung telah memberi 4.000 dosis vaksin yang disuntikkan ke anjing pada September 2018. Dok/ Balai Veteriner Lampung


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Pelaporan rabies dapat diinformasikan melalui sistem informasi kesehatan hewan Indonesia yang mutakhir atau Isikhnas. Dari situ pelaporan dapat disampaikan akan diproses oleh pihak yang terkait.

Kepala Seksi Informasi Balai Veteriner Provinsi Lampung, Tri Guntoro, menuturkan Isikhnas adalah integrated sistem kesehatan hewan nasional yang merupakan sistem terpadu. Laporan yang dikirimkan melalui Isikhnas bersifat realtime yang artinya saat laporan diterima, semua pihak yang terkait akan mendapatkan pemberitahuan.

"Pihak yang bersangkutan dapat langsung berkoordinasi untuk mengatasi laporan tersebut," ujar Tri.

Menurut dia, sosialisasi mengenai rabies sudah dilakukan oleh Balai Veteriner Lampung dengan membuat booklet komik berisi ilustrasi penularan rabies dan cara mengatasinya. Ia menjelaskan kendala masalah penyakit rabies adalah ketersediaan vaksin yang kurang membuat banyak orang yang ingin melakukan vaksin terhadap binatang peliharaannya, tetapi tidak mendapatkannya. Dia menilai daerah idealnya melakukan advokasi anggaran untuk membantu pembelian vaksin rabies.

Selanjutnya, budaya yang berkembang di Indonesia seperti berburu menggunakan anjing juga berpengaruh. Anjing yang biasanya melakukan pemburuan itu merupakan anjing kiriman dari provinsi lain, saat pengirimannya dapat memberi rabies pada hewan lainnya.

Kementerian Pertanian telah merencanakan program ASEAN Bebas Rabies tahun 2020. Program tersebut mengacu pada program global, yaitu Global Free Rabies 2030. Rabies yang merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan, seperti anjing, kucing, dan kera, menjadi masalah kesehatan utama masyarakat.

“Melihat kondisi saat ini, penyakit rabies yang statusnya merupakan penyakit endemis sporadis di Sumatera, yang berarti kejadian rabies tahunan dalam lokasi tertentu yang kemudian menjadi latar belakang program pemerintah tersebut," ujar Tri, pekan lalu.

Ia menuturkan kasus gigitan hewan rabies yang muncul di Lampung terjadi di beberapa tempat, yaitu Lampung Utara, Bandar Lampung, dan Lampung Timur. Tempat yang menjadi perhatian saat ini adalah Lampung Utara.

“Dalam 2—3 bulan terakhir, terdapat kasus gigitan di Lampung Utara, daerahnya Kotabumi dan Bukitkemuning,” ujar dia.

Menurutnya, berdasarkan data 2018, kasus hewan yang positif rabies terdapat 1 kasus di Bandar Lampung, Lampung Timur (1), serta Lampung Utara (4).

Dinas Peternakan Provinsi Lampung telah melakukan vaksinasi 4.000 dosis terhadap hewan penular rabies pada September lalu. Namun, keberhasilan vaksinasi rabies tidak hanya bergantung pada cakupan jumlah dosis yang diberikan.

“Keberhasilan vaksinasi rabies tidak bergantung pada cakupan jumlah hewan yang telah disuntik, tetapi terdapat faktor seroprotektif pada rabies. Seroprotektif pada rabies ini dipengaruhi beberapa hal, seperti kualitas vaksin, penyimpanan vaksin, dan kejujuran. "Vaksinasi berhasil apabila nilai seroprotektif di atas dari 70%,” kata Tri.

 

EDITOR

PKL

loading...




Komentar


Berita Terkait