#nuansa#antrean#premium

Antre Premium

Antre Premium
Ilustrasi. (Foto: Dok/Kaskus)


SENIN, 19 November 2018, sekitar pukul 21.00 WIB, saya nebeng teman saat hendak pulang ke rumah dengan mengendarai mobil sedan tuanya sekitar buatan tahun 2000. Sebelum menuju ke rumah, teman saya hendak mengisi bahan bakar premium. Maklum, ampere tanda penunjuk sisa bahan bakar di mobilnya sudah nyaris di huruf E.

Namun, saat tiba di salah satu SPBU di bilangan Jalan Soekarno-Hatta, Bandar Lampung, antrean kendaraan sudah mengular hingga ke sisi Jalan Lintas Sumatera tersebut. Selintas, apabila diamati dari sedikit kejauhan, pemandangannya nyaris seperti saat musim mudik kala antrean kendaraan hendak naik kapal di Pelabuhan Bakauheni.

Antrean dua jalur di SPBU tersebut cukup panjang mengular dan padat. "Waduh, antrenya panjang banget sudah kayak mau naik kapal di Bakauheni saat mudik, Bro," ujar teman.

Melihat antrean panjang di SPBU tersebut, teman yang tadinya berencana hendak mengisi premium terpaksa mengurungkan niatnya.

"Enggak jadilah, Bro. Langsung balik ke rumah aja. Gila antrenya panjang banget. Besok lagi aja siapa tahu sepi. Kalau enggak, nanti beli pertalite aja," kata teman yang akhirnya memutar arah di U-turn tidak jauh dari SPBU tersebut.

Setibanya di rumah saya, obrolan soal antrean premium di SPBU tersebut kembali berlanjut. Teman saya bilang saat ini premium memang tidak dijual di semua SPBU di Bandar Lampung. Hanya SPBU tertentu yang kini menyediakan bahan bakar tersebut.

"Kalau enggak salah, cuma lima atau enam SPBU yang jual premium di Bandar Lampung, Bro. Makanya hanya SPBU-SPBU tertentu saja yang ramai sampai antre kayak tadi. SPBU yang enggak jual premium mah sepi," kata teman.

"Jadi, kadang terpaksa beli pertalite atau pertamax kalau lagi buru-buru. Mau isi premium antrenya panjang terus," lanjut teman.

"Iya, sama. Kadang kalau lihat antre panjang begitu sudah pusing dan kesal duluan, Bro. Saya juga kadang isi pertalite atau pertamax kalau pas terpaksa," ujar saya.

"Iya, Bro. Kadang miris lihatnya. Cuma bisa ngelus dada aja. Kalau banyak duit mah, enak aja bisa beli pertamax sekalian biar bebas antre. Tapi, kantong cepat jebol, Bro. Maklum, penghasilan pas-pasan. Masih untung punya mobil tua bisa buat kaki kalau lagi hujan," ujarnya sambil tertawa.

"Ya, mau gimana lagi. Sekarang tinggal ikut antre atau beli bahan bakar lainnya yang enggak antre, udah itu aja pilihannya. Sekarang kalau kebanyakan ngeluh, suka minder sendiri, Bro. Takut dibilang bawa mobil kok enggak mampu beli bahan bakar. Nanti malah disaranin bawa sepeda atau jalan kaki lagi," ujar saya yang bikin teman terbahak.

EDITOR

Iyar Jarkasih/ Wartawan Lampung Post

loading...




Komentar


Berita Terkait