#rusiaukraina#internasional

Ancaman Rusia Hentikan Aliran Gas ke Eropa Kian Mendekat

Ancaman Rusia Hentikan Aliran Gas ke Eropa Kian Mendekat
Pipa gas Nord Stream 2 milik Rusia. AFP/Tobias SCHWARZ


London (Lampost.co) -- Raksasa energi Rusia mengancam akan mengirim lebih sedikit gas ke Eropa. Jerman salah satu importir utamanya menolak rencana itu. Gazprom yang mayoritas dimiliki Moskow mengatakan hal itu dilakukan karena ada keadaan tak terduga untuk tidak mematuhi kontrak gas di Eropa.

Perusahaan energi Jerman, Uniper, mengonfirmasi Gazprom mengklaim terjadinya force majeure pada pasokannya. Force majeure, sebuah istilah hukum, terjadi ketika keadaan tak terduga mencegah satu pihak memenuhi kewajiban kontraktualnya dan secara teori membebaskan mereka dari hukuman.

"Memang benar kami menerima surat dari Gazprom Export, perusahaan mengklaim force majeure untuk kekurangan pengiriman gas di masa lalu dan saat ini. Kami menganggap ini tidak dapat dibenarkan dan secara resmi menolak klaim force majeure tersebut," kata Juru Bicara Uniper Lucas Wintgens, dilansir dari CNBC International, Selasa, 26 Juli 2022.

Baca juga: Rusia Tuntut 92 Prajurit Ukraina atas Kejahatan terhadap Kemanusiaan

RWE, perusahaan energi Jerman lainnya, mengonfirmasi mereka juga menerima pemberitahuan force majeure dari Gazprom. Sedangkan Gazprom tidak segera dapat dimintai komentar ketika dihubungi oleh CNBC International.

Pejabat di Jerman dan di tempat lain di Eropa menjadi semakin khawatir tentang kemungkinan penghentian total pasokan gas dari Rusia. Ketakutan ini meningkat setelah Nord Stream 1 -pipa gas utama dari Rusia ke Jerman- ditutup awal bulan ini untuk pekerjaan pemeliharaan, dengan beberapa keraguan aliran akan pulih sepenuhnya setelah pekerjaan selesai pada 21 Juli. 

Negara-negara Eropa menerima sekitar 40 persen impor gas mereka dari Rusia sebelum menginvasi Ukraina. Pejabat Eropa berusaha keras untuk mengakhiri ketergantungan ini, tetapi itu adalah proses yang mahal dan sulit dicapai dalam semalam.

Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa, mengumumkan kesepakatan gas baru dengan Amerika Serikat (AS) dan Azerbaijan. Hal itu dilakukan karena mencari pemasok baru bahan bakar fosil. 

"Ini jelas merupakan wilayah yang belum dipetakan dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam bentuk ini," pungkas Kepala Analisis Energi ICIS Andreas Schroeder.

 

 

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait