#Perang#Israel#Palestina

Amerika Kecam Kejahatan Perang di Palestina Diusut

Amerika Kecam Kejahatan Perang di Palestina Diusut
Presiden AS Joe Biden. Foto: AFP.


Jakarta (Lampost.co) -- Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada Rabu, 3 Maret 2021, membuka penyelidikan resmi atas dugaan kejahatan perang di wilayah Palestina. Namun, hal tersebut dikecam oleh Amerika Serikat yang menyuarakan dukungan untuk Israel.

"Kami dengan tegas menentang dan kecewa dengan pengumuman jaksa ICC tentang penyelidikan atas situasi Palestina," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ned Price kepada wartawan.

Baca juga: Pengadilan Internasional Usut Kejahatan Perang Israel-Palestina

"Kami akan terus menegakkan komitmen kuat kami kepada Israel dan keamanannya termasuk dengan menentang tindakan yang berusaha menargetkan Israel secara tidak adil," katanya seraya mencatat Israel tidak menerima yurisdiksi pengadilan tersebut.

Meskipun mendapat tentangan kuat dari Israel dan Amerika Serikat, Kepala Jaksa ICC Fatou Bensouda akan melanjutkan penyelidikan atas situasi di Jalur Gaza yang diblokade serta Tepi Barat yang diduduki Israel.

Di bawah presiden sebelumnya Donald Trump, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada Bensouda setelah dia secara terpisah memutuskan untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang AS di Afghanistan. Presiden AS Joe Biden mengindikasikan pendekatan yang lebih kooperatif dengan pengadilan, melihat nilainya, tetapi belum mengakhiri sanksi tersebut.

"Kami berkomitmen untuk mendorong akuntabilitas, menghormati hak asasi manusia dan keadilan bagi para korban kekejaman," kata Price.

"Kami tidak setuju dengan tindakan ICC yang berkaitan dengan situasi Palestina dan tentu saja Afghanistan. Kami sedang meninjau sanksi secara menyeluruh," ungkap Price.

Sementara itu, Otoritas Palestina memuji keputusan Kepala Jaksa ICC Fatou Bensouda. Hakim ICC membuka jalan bagi penyelidikan kejahatan perang ketika mereka memutuskan sebulan lalu bahwa pengadilan memiliki yurisdiksi atas situasi tersebut karena keanggotaan Palestina.

Penyelidikan akan fokus pada Operation Protective Edge, operasi militer yang diluncurkan oleh Israel pada musim panas 2014 dengan tujuan menghentikan tembakan roket ke negara itu oleh Hamas. Sekitar 2.250 warga Palestina tewas dalam pertempuran tahun 2014, sebagian besar warga sipil, dan 74 warga Israel, yang sebagian besar tentara.

"Negara Israel sedang diserang malam ini," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah di Twitter tentang keputusan ICC tersebut.

"Pengadilan internasional yang berbasis di Den Haag mencapai keputusan yang merupakan inti dari anti-Semitisme," ujarnya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait