gunungmerapierupsi

Aktivitas Vulkanis Tak Pengaruhi Erupsi Gunung Merapi

Aktivitas Vulkanis Tak Pengaruhi Erupsi Gunung Merapi
Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)


Yogyakarta (Lampost.co) -- Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, mengatakan, fluktuasi aktivitas vulkanis Gunung Merapi tak mempengeruhi kekuatan erupsi. Statistik pengamatan BPPTKG menunjukkan situasi ini tak ubahnya erupsi 2006 dan 2010.

"Jumlah energi menurun, tapi ada peningkatan tak signifikan. Belum tentu jumlah (catatan aktivitas vulkanis) menurun, lalu energi menurun," kata Hanik, Jumat, 11 Desember 2020.

Hanik menjabarkan, naik-turunnya aktivitas vulkanik menjadi hal biasa bagi Gunung Merapi. Sebelum erupsi pada 2006, data hasil pantauan pun fluktuatif.

Saat kubah lava muncul pada 26 April 2006, aktivitas vulkanis meningkat. Kemudian muncul guguran dan lava pijar

"Pada 9 Mei 2006 ada awan panas pertama. Terus terjadi awan panas berkkutnya. Puncak erupsi terjadi pada Juni," ujar Hanik.

Menurut dia, situasi itu hampir sama terjadi pada 2010. Sebelum terjadi letusan, perubahan morfologi sekitar 23 sentimeter per hari atau dua kali lipat kondisi saat ini, yakni 11 sentimeter per hari.

Peningkatan besar terjadi saat akhir September 2010. Pertumbuhan kubah lava berkembang pesat hingga selama erupsi memuntahkan material hingga jutaan meter kubik.

Hanik menegaskan, aktivitas vulkanis Gunung Merapi saat ini masih tinggi meski fluktuatif. Ia mengatakan erupsi eksplosif masih sangat mungkin terjadi.

"Saat ini status masih sama karena potensi (erupsi eksplosif) itu masih ada. Energi (erupsi) mengacu pada berbagai kondisi dan (data) seismik (pemantauan)," jelasnya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait