Ihsgsaham

Akhir Pekan IHSG Tetap Berpeluang Menguat

Akhir Pekan IHSG Tetap Berpeluang Menguat
Ilustrasi perdagangan saham. Lampost.co


JAKARTA (Lampost.co) -- Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan ini berpeluang menguat. Kehadiran vaksin Moderna yang disetujui otoritas Amerika Serikat akan menjadi pertanda baik untuk proses pemulihan global karena tidak hanya bergantung dengan vaksin Pfizer.

Dengan adanya berita baik tersebut, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan dapat menopang penurunan IHSG dan mengubahnya menjadi kekuatan. Meski demikian, tetap ada sentimen yang mengganggu pergerakan IHSG seperti ketegangan yang terjadi antara Australia dan Tiongkok.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan diperdagangkan pada level 6.023-6.217," kata Nico, dalam riset hariannya, Jumat, 18 Desember 2020.

Adapun Australia akan menantang Tiongkok dalam World Trade Organization (WTO), atas keputusan Tiongkok untuk memberikan tarif yang lebih besar terhadap produk dari Australia sebagai imbas dari memburuknya hubungan kedua negara.

Tiongkok memberikan tarif lebih dari 80 persen terhadap produk dari Australia. Tarif tersebut merugikan produsen Australia dengan nilai sebesar 2,5 miliar dolar AS. "Proses penyelesaian perselisihan biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk diselesaikan," ucap Nico.

Selain menciptakan sentimen negatif, Nico melihat peluang dari ketegangan dua negara tersebut. Menurutnya memburuknya hubungan antara Australia dan Tiongkok dapat dimanfaatkan Indonesia untuk menggantikan Australia mengirimkan beberapa komoditas utama, seperti batu bara.

"Justru kami berharap memburuknya hubungan antara Australia dan Tiongkok dapat dimanfaatkan Indonesia untuk bisa masuk menggantikan Australia dalam pengiriman batu bara agar Indonesia memiliki diversifikasi pembeli batu bara dari Indonesia," jelasnya.

Kondisi ini merupakan potensi bagi emiten-emiten batu bara. Bahkan tidak hanya batu bara, beberapa komoditas penting lainnya seperti bijih tembaga dan konsentratnya, gula, dan kapas juga diperlakukan dengan dikenakan tarif Tiongkok.

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait