#hakasuh#perceraian

Akademisi Sebut Hak Asuh Anak Lebih Baik Diberikan Kepada Ibu

Akademisi Sebut Hak Asuh Anak Lebih Baik Diberikan Kepada Ibu
Pixabay/ Geralt


Bandar Lampung (lampost.co)--Kasus pencabulan ayah terhadap anaknya sendiri yang baru terjadi di Bandar Lampung dan Pringsewu, menjadi perhatian bagi Dosen Sosiologi Universitas Lampung (Unila), Handi Mulyaningsih.

Ia mengatakan kedua kasus ini diawali dari perceraian kedua orang tua anak, karena itu hak asuh anak menjadi salah satu persoalan yang kerap muncul dalam sebuah perceraian.

Lanjutnya, tak jarang, suami dan istri yang bercerai berebut untuk mendapatkan hak asuh atas anak mereka.

Baca juga : Hak Asuh Balita Jatuh ke Suami Baru Terjadi di Pesawaran

"Mengacu pada UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, meski telah bercerai, mantan suami dan istri tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anak mereka berdasarkan kepentingan anak," katanya saat dihubungi, Selasa, 2 Agustus 2022.

Menurutnya kewajiban ini berlaku sampai anak itu menikah atau dapat berdiri sendiri. Dalam artian, kasih sayang orang tua terhadap anak tidak boleh dihalangi oleh pihak mana pun meski mereka telah bercerai.

Handi menjelaskan soal aturan terkait pemegang hak asuh anak dituangkan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dalam Pasal 105 KHI, pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun merupakan hak ibunya.

"Jika anak tersebut sudah berusia 12 tahun, maka keputusan akan diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak asuhnya," jelasnya.

Baginya, bila tidak ada hal yang membuat ibunya tidak bisa mengasuh misalnya ada gangguan mental kesehatan, maka hak asuh pada ibunya. Tetapi, bila ayahnya juga tidak memenuhi syarat untuk mengasuh, lebih baik pada kerabat terdekat.

"Perceraian merupakan kondisi yang tidak dapat dicegah. Meskipun diperbolehkan tapi berdampak pada kondisi anak, bisa menelantarkan anak," ujarnya.

Terakhir ia mengatakan aspek sosialisasi hukum perkawinan perlu dilakukan agar semua pihak memahami konsekuensi dari tindak kekerasan dalam rumah tangga, berlanjut pada tindak kekerasan pada anak.

"Yang penting, keluarga, tetangga, hukum, memberikan perlindungan pada anak-anak yang orang tuanya bercerai," pungkasnya.

EDITOR

Dian Wahyu K


loading...



Komentar


Berita Terkait