#asusila#pencabulan

Akademisi Dorong Ayah yang Cabuli Anak di Way Kanan Dihukum Kebiri

Akademisi Dorong Ayah yang Cabuli Anak di Way Kanan Dihukum Kebiri
Ilustrasi. Dok. MI


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Akademisi Hukum Universitas Lampung (Unila) Eddy Rifai menilai hukuman berat bagi pelaku pencabulan atau predator anak di bawah umur tidak akan membuat efek jera. Hal itu disebabkan tidak ada hukuman fisik bagi para pelaku.

Menurut Eddy Rifai, meski Presiden Joko Widodo telah menerbitkan PP No. 70 Tahun 2020 tentang tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, namun tidak semua pelaku pencabulan terhadap anak berakhir dihukum kebiri. Hal ini yang mengakibatkan predator anak masih merajalela.

Baca juga: Bapak dan Anak Setubuhi Perempuan di Bawah Umur

"Dari dulu juga hukum pidana ini sudah ada, banyak orang dihukum berat tetap saja banyak yang tidak jera, karena ini kompleks, penegak hukum harus tegas berikan sangsi kebiri," katanya, Jumat, 26 November 2021.

Para pelaku dapat dikenakan pasal 81 atau pasal 82 Ayat (1)  UU RI No.17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.Juga dapat dikenakan UU KDRT.

"Dikarenakan kedua tersangka merupakan wali pengasuh dari korban maka ancamannya ditambah 1/3 dari ancaman pokok," katanya.

Diketahui, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Way Kanan meringkus pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur di Kampung Negeribaru, Kecamatan Umpu Semenguk, Kabupaten Way Kanan.

Kasat Reskrim Polres Way Kanan, Iptu Des Herison Syafutra menceritakan, peristiwa pencabulan terjadi pada Juli dan Agustus 2021 sekitar pukul 10.00 WIB. Korban sedang duduk di teras rumah tiba-tiba diperintah memijit badan pelaku berinisial INS (51). Setibanya di dalam kamar, pelaku menarik tangan korban dan memperkosa korban.

 

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait