#adatlampung

Adat Menjadi Jati Diri Masyarakat Lampung

Adat Menjadi Jati Diri Masyarakat Lampung
dok Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co): Adat menjadi jati diri masyarakat Lampung. Sehingga menghargai adat merupakan menghargai karakter dan jati diri Ulun Lampung yang mempunyai tata titi atau tata aturan tersendiri.


Hal itu dikatakan Plt Ketua Humas Hanggum Jejama Kepaksian Pernong Sekala Bkhak Lampung Agi Utama terkait banyaknya pelanggaran norma adat. Salah satunya pemakaian kebesaran Saibatin oleh orang yang semestinya tidak berhak.

"Setidaknya ada empat perangkat kebesaran adat Paksi Pak Sekala Bkhak. Tanduan, Aban Gemisikh, Papadun Melasa Kepappang, dan Lelamak Titi Kuya merupakan perangkat Saibatin, tidak ada yang lain berhak memakainya kecuali Saibati Paksi Pak," kata Agi, seperti dalam rilis yang diterima Lampost.co, Senin, 14 Oktober 2019.

Menurut Agi, di bumi Lampung terdapat dua sub kultur adat yaitu Saibatin dan Pepadun. Saibatin menganut sistem pemerintahan adat yang bersifat Otokratis, sedangkan Pepadun Demokratis.

"Dua sub kultur Adat tersebut mempunyai kebesarannya masing-masing. Kebesaran itulah yang di pegang teguh dan terwariskan dengan baik hingga saat ini," katanya.


Salah satu hal yang dikoreksi Humas Kepaksian Pernong itu terkait pemakaian perangkat kebesaran Saibatin itu adalah Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim yang disiapkan Lelamak Titi Kuya di Lamban Kuning, Sukamare. Pihaknya mempertanyakan tentang ketidaktahuan Wagub lampung itu tentang erangkat kebesaran adat yang hanya untuk empat Saibatin Sekala Brak.

"Siapapun itu, khususnya Kepala Daerah yang ada di Tanah Lampung sejatinya memahami kearifan lokal sebagai kebesaran-kebesaran adat di tanah Lampung, baik kebesaran adat milik Saibatin maupun kebesaran adat milik Pepadun," ujarnya.

Sehingga sikap dan prilaku pimpinan daerah itu tidak menimbulkan polemik. Sebab kedudukan adat harus didudukkan pada tempatnya, dimana Adat itu berada. "Karena menghargaai adat berarti menghargai karakter dan jati diri masyarakat Lampung yang punya tata titi serta hak dan kewajiban sebagai masyarakat adat," katanya.

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kepaksian Pernong Seem R Canggu gelar Raja Duta Perbangsa mengatakan apa yang disampaikan oleh Humas Hanggum Jajama adalah pakem adat yang dijunjung tinggi di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak. "Itu sudah benar yang dinyatakan Humas Hanggum Jejama," kata Udo Seem, sapaan Seem Canggu itu, kemarin.

Udo Seem juga mengatakan, penggelaran prosesi adat itu haruslah dilakukan oleh pemilik dan penguasa adat. Jangan sampai digelar secara menyalahi sehingga melanggar pakem adat masyarakat saibatin, lebih lagi Paksi Pak Sekala Bkhak.

"Apa lagi yang menggelar prosesi adat itu tidak berhak atas kebesaran itu. Artinya, jangan sampai kemudian kebesaran adat itu didangkalkan oleh masyarakat adat saibatin sendiri," katanya.

Sehingga acara di Lamban Kuning saat itu bagaikan acara pertunjukan eksibishi yang dilaksanakan oleh sanggar dan menjadi tontonan dalam rangka hiburan publik. Padahal sudah menjadi suatu kewajiban masyarakat adat saibatin untuk menjaga tata titi adat yang benar dan tidak menjadikan kebesaran adat bagaikan tontonan.

"Peranggkat adat yang digelar itu, pemegang alatnya sudah ada yang memegang ratusan tahun turun temurun. Itulah sebabnya pemakaian alat tersebut menjadi sakral dan hikmat serta aktualusasi jati diri adat," kata dia.

 

EDITOR

Mustaan Basran

loading...




Komentar


Berita Terkait