#keretaapi#ptkai

Adaptasi Kebiasaan Baru KAI, Saling Jaga untuk Melindungi

Adaptasi Kebiasaan Baru KAI, Saling Jaga untuk Melindungi
Petugas sedang melakukan Rapid Test kepada salah satu calon penumpang. Lampost.co/Nurjanah


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Suasana berbeda saat memasuki Stasiun Kereta Api Tanjungkarang, Bandar Lampung. Stasiun yang tepat berada di jantung ibu kota Provinsi tepatnya di Jalan Kota Raja,Gunung Sari, Enggal saat ini memang tidak seramai biasa sebelum pandemi.

Di sebelah kanan halaman parkir terlihat sejumlah petugas lengkap dengan alat pelindung diri (APD) yang melayani semua calon penumpang untuk melakukan rapid test. 

Sebelum melakukan rapid test calon penumpang terlebih dahulu menunjukkan data diri berupa KTP, tiket kereta api, dan kartu bukti vaksin minimal dosis pertama. Dalam waktu 15 menit calon penumpang sudah bisa mendapatkan hasilnya.

Sebelum masuk ke stasiun, semua calon penumpang akan diukur suhu tubuh, mencuci tangan, dan menjaga jarak antara satu penumpang dengan penumpang lain.

Saat masuk ke dalam stasiun, terlihat puluhan bangku besi tempat tunggu penumpang nampak berjajar rapi yang saat itu nampak sepi, lengkap dengan tanda silang merah sebagai penanda menjaga jarak aman satu meter. 

Begitu juga ketika akan masuk ke dalam kereta, penumpang kembali menggunakan handsanitizer yang disediakan petugas. Kemudian saat berada di dalam kereta, penumpang wajib menetapkan protokol kesehatan secara melekat. Menjaga jarak tempat duduk, dan memakai dobel masker. Penumpang diminta untuk tidak mengobrol, serta disarankan memakai baju lengan panjang.

Salah satu penumpang asal Bandar Lampung, Rini Efriyanti, mengungkapkan transportasi kereta api menjadi langganan sejak dulu. Namun, sejak pandemi Covid-19 baru pertama kali menggunakan Kereta Api.

Penumpang tujuan Baturaja, Sumatra Selatan, itu mengaku tidak ada persiapan khusus yang dilakukan sebelum menaiki Kereta Api. "Sebelum pandemi saya memang selalu menggunakan KA, tapi sejak pandemi baru ini. Sebelumnya saya juga sudah divaksin dosis lengkap jadi aman," ujar perempuan berhijab itu.

Rini mengakui sebelum naik kereta semua calon penumpang dipastikan dalam kondisi sehat, dan wajib menerapkan 5M. Begitu juga dengan petugas yang memastikan keamanan penumpang dengan menunjukkan hasil rapid test negatif .

"Untuk memastikan kesehatan, walaupun saya sudah divaksin tetap harus rapid test. Penumpangnya juga tidak terlalu banyak, sehingga tidak berkerumun, dengan sendirinya otomatis kami menjaga jarak," ujarnya.

Pengalaman serupa juga diungkapkan Hafid yang juga bekerja di Divre Regional IV Tanjungkarang bagian perawatan Kereta Api. Selama dua hari ke depan, ia bersama dengan 15 peserta lain akan mengikuti diklat yang diadakan manejemen dengan lokasi di stasiun setempat.

Baginya, meskipun bekerja dilingkungan KA bukan berarti ia bisa bebas keluar masuk stasiun. Sebelum mengikuti diklat ia diwajibkan untuk rapid test sebagai salah satu sarat yang harus dipenuhi.

"Meski kami bekerja di KA, syaratnya sama saja dengan penumpang, harus di rapid test. Kalau hasilnya reaktif kami tidak bisa masuk ke dalam mengikuti diklat,"ujar Haifid yang telah bekerja di Divre IV sejak tahun 2015 itu.

Menurutnya prosedur yang ditetapkan sebagai upaya untuk saling menjaga. Begitu juga saat di ruangan menjadi lebih tenang. "Intinya, kami saling menjaga supaya sama-sama sehat, dan aman,"kata dia.

Analis kesehatan dari Klinik Meri Medical Center, Natar, Lampung Selatan yang bertugas di Stasiun Kereta Api, Tanjungkarang M. Anton Romades mengungkapkan dalam sehari rata-rata melayani 60 calon penumpang melakukan rapid test.

Ia mencatat selama September 2021 setidaknya ada tiga calon penumpang yang hasilnya reaktif, sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. 

"Di bulan ini ada sekitar tiga orang yang reaktif tidak bisa melanjutkan perjalanan dan tiket dibatalkan. Dengan jaminan uang kembali 100%,"ujar Anton. 

Kepala Stasiun Tanjungkarang, Johong Andono, mengungkapkan

PT KAI melalui tiga langkah strategisnya, yakni adaptif, solutif, dan kolaboratif telah melakukan sejumlah adaptasi di masa pandemi. Kesehatan, keamanan dan kenyamanan penumpang menjadi prioritas utama KA.

"Penumpang usia minimal 12 tahun, dan sudah divaksin minimal dosis pertama," kata Johong saat ditemui di Stasiun belum lama ini.

Johong tidak menampik sejak pagebluk Covid-19 terjadi pada awal 2020 penumpang KA turun mencapai 90%. Dengan keterisian tempat duduk penumpang dalam sehari rata-rata hanya 4%. Sehingga saat ini pihaknya hanya mengoperasikan tiga kereta api. Yakni kereta Kuala Stabas, Tanjungkarang- Baturaja, Tanjungkarang- kertapati- Rajabasa. 

"Prinsip kami kesehatan penumpang paling utama, memberikan pelayanan kepada masyarakat. Walupun hanya 1-2 penumpang harus tetap mematuhi sarat, dan ketentuan perjalanan KA," kata dia.

Menurutnya, untuk memastikan kebersihan, dan kenyamanan di stasiun, dalam sehari kereta disemprotkan disinfektan dua kali di dalam dan luar kereta. Yakni usai kedatangan, dan keberangkatan kereta api, begitu juga dengan penumpang wajib menerapkan 5M.

"Karena ini sudah kami lakukan sejak lama,awal pandemi jadi sudah bukan kebiasaan baru lagi," imbuh dia.

Siapkan Vaksinasi Gratis  

Manager PT KAI Divre IV Tanjungkarang Jaka Jarkasih mengatakan demi memberikan keamanan bagi calon penumpang KAI Divre IV Tanjungkarang menyediakan 10 vaksinasi Covid-19 gratis kepada 10 calon penumpang KA Rajabasa dan Kuala Stabas yang berlaku mulai 7 September dan seterusnya. 

"Kami berikan 10 vaksinasi Covid-19 secara gratis kepada calon penumpang yang akan berpergian menggunakan kereta api jarak jauh," kata Jaka Jarkasih.

Jaka menjelaskan pemberian ke 10 vaksinasi tersebut disediakan PT KAI untuk 10 calon penumpang pertama. Persyaratan yang harus dilakukan dengan melengkapi berkas, seperi tiket kereta api, dan rapid test antigen yang berlaku. 

"Karena keterbatasan vaksin, kami dari pihak kereta api mohon maaf belum bisa mengakomodir semua calon penumpang yang akan berpergian menggunakan KA Rajabasa Tanjungkarang-Kertapati dan KA Kuala Stabas Rajabasa-Baturaja. Semoga ke depan kami bisa mengakomodir calon penumpang yang belum divaksin yang akan berpergian menggunakan angkutan kereta api," ungkapnya. 

Dihubungi terpisah, pengamat transportasi dan Kebijakan Publik Institut Teknologi Sumatera (Itera), IB Ilham Malik, mengungkapkan adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi Covid-19 bersifat nasional, bahkan internasional. 

Begitu juga saat menggunakan transportasi umum seperti Kereta Api. Penumpang wajib sudah vaksin minimal dosis pertama, dan rapid test ulang.

Menurutnya apabila angkutan tidak menjalankan regulasi tersebut dikhawatirkan transportasi umum akan menjadi klaster baru. "Ada hipotesa yang mengungkapkan resiko penularan melalui transportasi cukup besar. Untuk menekan angka penularan, maka perlu menerapkan adaptasi kebiasaan baru tersebut. Kereta Api sudah mengantisipasi hal tersebut, ini harus kita apresiasi," ujar Ilham Malik.

Menurut dia, agar semua aktivitas masyarakat terlayani, dan perekonomian tidak terganggu transportasi harus tetap beroperasi. Upaya yang dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, dengan melakukan vaksin dan swab ulang.

"Sekarang ini bukan jadi hal baru, semua sudah menjalankan adaptasi kebiasaan baru. Ke depan ketika Covid-19 tidak ada lagi, hidup sudah kembali normal, transportasi bisa diakses siapapun tanpa terlalu menyiapkan administrasi kesehatan menggunakan transportasi umum," pungkas dia. 

Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung pada, 1 September 2021 saat ini Kereta Api menjadi transportasi darat paling banyak digunakan masyarakat.

Kepala BPS Lampung, Faizal Anwar, mengatakan jumlah penumpang yang berangkat dari Stasiun Kereta Api Tanjungkarang pada, Juli 2021 sebanyak 8.697 orang, atau turun 50,64% bila dibandingkan Juni 2021 yaitu 17.619 orang.

"Kereta api merupakan moda angkutan terbesar yang digunakan oleh penumpang dengan prosentase 41,44% pada Juli 2021," katanya Faizal.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait