#Ramadan#HUTRI

9 Ramadan: 78 Tahun Lalu Indonesia Merdeka

9 Ramadan: 78 Tahun Lalu Indonesia Merdeka
Presiden Sukarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta. Foto: Frans Mendur. Dok Arsip Nasional RI


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Dua jam sebelum naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan, Sukarno masih terbaring lunglai di kamarnya. Dua perkara yang mengharuskan Pemimpin Besar Revolusi ini mesti banyak-banyak istirahat; terserang gejala malaria tertiana, juga tengah menjalankan ibadah puasa.

Dalam Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik (2008), Marwati Djoened mengutip ucapan Sukarno yang menyebut bahwa pembacaan proklamasi kemerdekaan sebagai peristiwa maha penting. Sebab itulah, Bung Karno tetap memilih untuk hadir dan berdiri di hadapan rakyat dan tidak memedulikan kondisi tubuhnya yang masih terbilang lemah.
 
"Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib Tanah Air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya," ucap Sukarno, seperti yang ditulis Marwati.

Baca: Sidang Isbat dari Masa ke Masa

 

Bulan suci sebagai saksi dinyatakannya kemerdekaan bangsa Indonesia itu bukan sepenuhnya kebetulan. Dua hari sebelumnya, saat terlibat dalam perdebatan dengan golongan muda mengenai kapan waktu kemerdekaan Indonesia layak dinyatakan, Sukarno mengungkapkan dirinya telah jauh-jauh hari memilih Ramadan sebagai hari ditabuhnya gong kemerdekaan.
 
"Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17," kata Soekarno, dikutip Ahmad Soebardjo dalam Lahirnya Republik Indonesia (1978).
 
"Mengapa justru diambil tanggal 17? Mengapa tidak sekarang saja? Atau tanggal 16?" tanya Sukarni, mewakili golongan muda.
 
"Bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia," jelas Sukarno.
 
Atas desakan golongan muda yang menganggap proklamasi lebih elok untuk dilaksanakan dengan segera, akhirnya Sukarno mengalah. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang lebih dikenal dinyatakan pada 17 Agustus 1945 itu menggema bertepatan dengan  9 Ramadan 1364 Hijriah, 78 tahun lalu.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait