perokok

60 Persen Pelajar Perokok Aktif

( kata)
60 Persen Pelajar Perokok Aktif
dok Lampost.co

Jakarta (Lampost.co) --  Ketua Lentera Anak Lisda Sundari menyebut sebanyak 60 persen pelajar Indonesia merupakan perokok aktif. Hal itu berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 5 hingga 10 tahun terakhir.
 
"Sebanyak 60 persen itu tidak bisa dicegah untuk membeli rokok karena tak ada warung yang melarang dan mereka membeli secara eceran," kata Lisda dalam diskusi daring bertema Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020, Senin, 1 Juni 2020.
 
Lisda mengatakan jumlah anak-anak yang merokok meningkat setiap tahun. Pada 2019, WHO menyebut ada penambahan 19,2 persen kalangan anak-anak yang menjadi perokok aktif. Menurut dia, itu terjadi karena tidak ada pelarangan untuk membeli rokok eceran.

"Anak-anak Indonesia membutuhkan perlindungan negara ini, sehingga tak dimanipulasi industri rokok," ujar Lisda.
 
Lisda menuturkan sejumlah faktor yang membuat anak-anak 10 hingga 18 tahun menjadi perokok aktif. Yakni, harga murah dan industri rokok secara masif mempromosikan produknya.
 
Hasil survei pada 2017, kata dia, industri rokok mempromosikan produknya melalui poster, banner, spanduk, dan billboard dengan menawarkan harga yang murah. Setiap orang dapat membeli rokok Rp10ribu per bungkus atau Rp1 ribu hingga Rp2 ribu per batang.
 
"Tujuannya untuk orang yang kantong-kantong sedikit, sehingga bisa menjangkau harga rokok tersebut," ungkap Lisda.
 
Lisda berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bisa melindungi anak-anak dari serangan harga rokok murah. Sebab, anak-anak muda itu merupakan penerus bangsa yang wajib dilindungi negara.
 
"Kalau terus ini terjadi kami tak bisa apa-apa lagi, enggak cukup keluarga tapi negara melindungi anak-anak kita," ujar dia.
 
Lisda meminta pemerintah menghapus diskon rokok. Aturan diskon rokok terdapat dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 156 Tahun 2018 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Direktur Jenderal Bea Cukai Nomor Per-37/BC/2017 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Cukai Hasil Tembakau.
 
Atas kebijakan itu, banyak praktik diskon rokok. Misalnya, rokok Philip Morris Bold isi 12 batang yang merupakan produk PT HM Sampoerna Tbk dijual Rp12.000 per bungkus. Padahal, harga pada banderolnya Rp13.440 per bungkus.
 
Contoh lainnya adalah diskon sigaret kretek mesin MLD. Harga yang tertulis di pita cukai dari produk PT Djarum ini sebesar Rp17.920 per bungkus. Kenyataannya, rokok ini dapat dibeli dengan harga Rp16.000 per bungkus isi 16 batang. Iklan diskon harga rokok dari produk MLD juga terpampang luas di billboard dan toko-toko di berbagai daerah.
 
Sementara itu, GG Move dari PT Gudang Garam Tbk dibanderol Rp13.450 per bungkus. Di lapangan, rokok jenis sigaret kretek mesin isi 12 batang ini dijual Rp12.000 per bungkus.
 
Peraturan Menteri Keuangan itu dinilai bertentangan dengan peraturan yang posisinya lebih tinggi, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Aturan ini memuat ketentuan pelarangan potongan harga produk tembakau atau diskon.
 
"Saya khawatirkan kebijakan diskon ini, sudah murah tapi didiskon. Rokok bukan untuk wajib dikonsumsi, kalau mau diskon itu sembako, rokok harusnya harganya mahal," tegas Lisda.

EDITOR

Medcom

loading...

Berita Terkait

Komentar