#phk#pandemicovid-19

52% Pekerja Dinilai Terkena PHK selama Pandemi

52% Pekerja Dinilai Terkena PHK selama Pandemi
Ilustrasi PHK.


Jakarta (Lampost.co) -- Country Manager JobStreet Indonesia, Faridah Lim, menilai dampak terbesar dari pandemi covid-19 dalam dunia ketenagakerjaan adalah pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kami lihat ternyata 52 persen pekerja di Indonesia mengalami PHK. Ini dampak yang sangat besar terutama bagi usaha pencari kerja," kata Faridah dalam diskusi virtual, Senin, 7 Juni 2021.

Ia menjelaskan, dari sisi pendidikan, PHK paling banyak terjadi pada karyawan atau pekerja yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal dan pendidikan SMA.

"Sebanyak 65 persen yang tidak memiliki pendidikan formal dan pendidikan SMA. Jadi dari kalangan pendidikan bisa lihat dua kelompok ini yang paling banyak berdampak PHK," ucapnya.

Sementara dari segi usia, sebanyak 60 persen usia yang paling banyak terkena PHK pada kalangan muda yaitu berusia di bawah 20 tahun.

Faridah menjelaskan, pandemi covid-19 mengubah pola kerja. Perkembangan digitalisasi dan otomatisasi hal yang tak terelakan. Namun, sayangnya menjadi satu tantangan dan momok tersendiri bagi pekerja di era pandemi. Sebagian kalangan pekerja menganggap digitalisasi dan otomatisasi akan meningkatkan risiko PHK lebih besar.

"Dari survey yang kami lakukan, akibat digital semua menjadi terotomatisasi dan ini memberikan kekhawatiran bagi kalangan tertentu mereka akan kehilangan pekerjaannya," ucapnya.

Adapun berdasarkan survei yang dilakukan sebanyak 64 persen dari usia pendidikan strata-3 (S3) merasa paling khawatir terhadap otomatisasi. Mereka merasa bisa kehilangan pekerjaan dengan perubahan dan perkembangan tren tersebut.

Kemudian dari sisi usia, Faridah menyampaikan, yang paling merasakan kekhawatiran dari kondisi tersebut pada segmen usia muda. Walaupun anak muda yang aktif di digital mereka juga yang paling khawatir terdampak dari otomatisasi terhadap pekerjaan.

"Kami lihat 48 persen usia dibawah 20 tahun ini khawatir mereka akan kehilangan pekerjaan," imbuhnya.

Kendati demikian, Faridah melihat masih banyak pekerja yang ingin belajar untuk tetap bertahan di kondisi itu. Mereka bersedia belajar dan melakukan re-training untuk mempertahankan dan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik.

"75 persen masyarakat Indonesia bersedia belajar agar bisa mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik," ujarnya.

Adapun beberapa jenis pekerjaan yang pekerjanya mau meluangkan waktu untuk belajar adalah seni dan pekerjaan kreatif, IT dan teknologi, konsultasi, media dan informasi, sains, dan penelitian.

Sedangkan industri yang pekerjanya mau meluangkan waktu untuk belajar adalah teknologi, nirlaba, legal, pelayanan profesional, dan pariwisata.

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait