#digital#ekonomidigital

5 Tren Teknologi untuk Bisnis 2023

5 Tren Teknologi untuk Bisnis 2023
Paul Burton, GM IBM Asia-Pacific


Jakarta (Lampost.co) -- IBM dan IDC menyebut perusahaan memasuki era baru, sebagai hasil dari percepatan digital selama tiga tahun terakhir di seluruh dunia, Karakteristik yang menentukan dari era digital baru ini menjadi kontekstualisasi dan skala waktu yang nyata.

Hal ini akan menjadi sangat penting bagi organisasi agar dapat bergerak lebih gesit di era digital. Menurut IDC, lebih dari 60 persen dari total pengeluaran organisasi berasal dari teknologi transformasi digital.

Mereka juga membagikan beberapa prediksi. Pada 2026, 40 persen dari total pendapatan organisasi A2000 akan dihasilkan produk, layanan, dan pengalaman digital.

Pada 2027, sebanyak 80 persen organisasi akan secara akurat mengukur nilai kapabilitas/aset digital (data, algoritma, dan kode perangkat lunak) dan secara signifikan meningkatkan valuasi pasar mereka.

Tahun 2024, 30 persen organisasi akan memiliki strategi manajemen krisis kesinambungan bisnis yang mencakup inteligensi berkelanjutan dan memungkinkan reaksi gesit terhadap guncangan dan gangguan ekonomi di masa depan.

Pengeluaran untuk teknologi digital organisasi juga diprediksi akan tumbuh 3,5 kali lipat lebih cepat dari ekonomi pada 2023. Untuk membangun landasan keunggulan operasional, diferensiasi kompetitif, dan pertumbuhan jangka panjang.

BACA JUGA: Indonesia Butuh 17 Juta Tenaga Kerja Melek Teknologi Demi Bersaing dengan Negara Lain

Selanjutnya, ada 5 tren yang harus diperhatikan pada 2023:

1. Otomatisasi yang pervasif di seluruh organisasi

Organisasi berinvestasi sangat besar dalam hal otomatisasi. Pada kenyataannya, beberapa proyek AI dan otomatisasi belum terpenuhi sesuai harapan. Sebab, penggunaan teknologi ini sebagian besar masih diterapkan dalam silo/tidak menyeluruh.

IDC berpendapat teknologi selalu menjadi deflator karena organisasi menggunakan teknologi untuk mendorong otomatisasi yang secara tidak langsung mengurangi tekanan inflasi.

"Otomatisasi menjadi makin penting untuk bisnis. Pertanyaannya adalah mengapa? Jawabnya adalah Demografi. lebih sedikit orang yang memasuki dunia kerja dan lebih sedikit pula tenaga kerja yang tersedia," kata Paul Burton, GM IBM Asia-Pacific dalam sesi diskusi regional secara online bersama beberapa media dari berbagai negara.

"Selain itu, banyak orang yang memasuki dunia kerja tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mendorong transformasi digital di masa depan. Itulah sebabnya otomatisasi adalah suatu keharusan."

2. Kepercayaan pada data dan kebutuhan untuk integrasi tanpa batas

Menurut IDC, AI, analytics dan big data tumbuh 20 persen dari tahun ke tahun di di Asia Pasifik. Menurut Paul, satu-satunya cara agar organisasi dapat mengikuti kecepatan data dalam jumlah yang sangat besar adalah dengan men-deploy AI. Namun, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan organisasi.

"Jika Anda tidak memiliki akses ke data dan tidak dapat memanfaatkan data, langkah Anda tidak akan jauh. Tanpa arsitektur data yang baik, tanpa struktur data yang logis, dan tanpa kemampuan dalam memanfaatkan data, menarik kesimpulan, serta pembuatan keputusan yang tepat, artinya Anda tidak melakukan pembelajaran dan perubahan," ungkapnya.

Perusahaan yang saat ini meraih kesuksesan adalah perusahaan yang paling cepat beradaptasi dengan lingkungannya, belajar, dan kemudian berkembang paling cepat. Hal tersebut 100 persen didasarkan pada interpretasi data dan pembelajaran dari data.

"Saran saya adalah dapatkan arsitektur data serta struktur data yang baik, dan pastikan memiliki akses fleksibel ke semua data di perusahaan, sehingga Anda dapat memberikan manfaat, wawasan dan memiliki garis dasar tentang kinerja Anda saat ini."

Saat membuat keputusan, lihat bagaimana metrik tersebut bergerak serta apakah kinerja Anda meningkat atau stagnan, dan apakah dapat mengarahkan sebagaimana sesuai tujuan organisasi.

Menurut IDC, pada tingkat tertentu, perusahaan harus mengakomodasi data dan kumpulan data untuk memastikan data tersebut mewakili masyarakat atau kelompok dengan tepat. Algoritma dapat mengakomodasinya.

Hal yang dibutuhkan organisasi adalah fondasi data yang baik, data yang akurat, arsitektur yang tepat, dan struktur data yang logis guna memungkinkan integrasi seluruh data dari perusahaan ke dalam aplikasi atau kemampuan yang akan menghasilkan scorecard atau laporan tentang kinerja organisasi saat ini.

"Struktur data adalah arsitektur yang menjadikan semua data dan perusahaan dapat diakses melalui sumber tunggal application programming interface (API) tunggal," ungkap Paul.

3. Keamanan dunia maya yang tertanam dan terhubung

Menurut IDC, dalam 3 tahun terakhir, jumlah penipuan online dan penipuan seluler meningkat di seluruh region. Semua bank berinvestasi secara signifikan dalam proses, teknologi, dan SDM untuk mengelola keamanan dan mematuhi peraturan di seluruh kawasan.

Saat sektor publik dan pemerintah meningkatkan titik kontak online dan seluler dengan warga negara dan penduduk negara mereka, paparan bahaya pun akan meningkat. Dalam 3 tahun terakhir, banyak perhatian tertuju pada perawatan kesehatan.

Di ASEAN saja pada 2020, USD2,6 miliar lenyap akibat produk kesehatan palsu, termasuk vaksin covid. Banyak organisasi perawatan kesehatan menggunakan sistem guna memastikan mereka benar-benar dapat memeriksa dan mengautentikasi produk.

Edukasi keamanan dunia maya untuk karyawan di seluruh organisasi sangatlah penting. Hal itu harus menjadi proses yang berkesinambungan.

Menurut Paul, satu-satunya cara agar dapat mengikuti kecepatannya melalui penggunaan AI atau otomatisasi. Jadi, gagasan tentang kemampuan manajemen ancaman yang kuat agar dapat memahami yang terjadi di infrastruktur atau titik paparan secara virtual merupakan hal yang sangat penting.

Perusahaan tidak dapat menghentikan pelaku kejahatan untuk menyerang. Namun, dapat mengetahui mereka menyerang dan segera mengambil tindakan untuk mengatasinya.

Strategi keamanan Zero Trust dapat membantu organisasi meningkatkan ketahanan dunia maya dan mengelola risiko lingkungan bisnis yang tidak terkoneksi.

4. Keberlanjutan adalah mandat bisnis

Menurut Burton dari IBM, teknologi seperti otomatisasi memungkinkan organisasi untuk mengonsumsi lebih sedikit input guna menghasilkan apa pun yang mereka jual.

Menurut Jimenez dari IDC, Data Center mengonsumsi sekitar 2 persen listrik di seluruh dunia, dan menyebabkan 6 hingga 7 persen emisi jejak karbon di seluruh dunia. Di Singapura, mereka menghasilkan sekitar 7 persen konsumsi listrik.

Kunci untuk langkah selanjutnya dalam keberlanjutan adalah kemampuan organisasi dalam mengukur jejak karbon berdasarkan operasi mereka saat ini, sehingga mereka tahu apa yang dapat mereka kendalikan dan tindakan apa yang dapat diambil.

Paul mengatakan organisasi tidak akan tahu seperti apa kinerja keberlanjutan mereka, kecuali jika mereka dapat menetapkan garis dasar dan mengukurnya. IBM menghadirkan solusi seperti Envizi untuk membantu organisasi mengotomatiskan koleksi dan konsolidasi ratusan tipe data di bawah kerangka pelaporan ESG utama yang diakui secara internasional.

5. Karyawan dan tenaga kerja digital untuk masa depan

"Makin sedikit orang yang memasuki dunia kerja, makin sedikit pula orang yang memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mendorong transformasi digital ke depan. Keadaan ini terjadi selama 10 hingga 15 tahun terakhir," lanjut Paul.

Itulah alasan mengapa otomatisasi sangatlah penting, karena otomatisasi dapat memberikan pilihan kepada perusahaan untuk mengotomatiskan beberapa pekerjaan yang berulang. Organisasi perlu meningkatkan dan mengintensifkan pelatihan keterampilan karyawan yang memahami budaya dan proses organisasi mereka.

Otomatisasi akan membantu mengatasi kesenjangan talenta. Menurut IDC, pada 2023, otomatisasi akan menjadi pendekatan di mana organisasi akan menangani. Pada dasarnya mendorong dan mampu mengatasi, atau setidaknya mengurangi dan kesenjangan talenta dalam organisasi mereka sendiri.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait