#tenggelam#banjir#beritapesibar

4 Hari Pencarian, Jasad Korban Hanyut di Way Tenumbang Ditemukan

( kata)
4 Hari Pencarian, Jasad Korban Hanyut di Way Tenumbang Ditemukan
Jasad Selamat Hardi ditemukan tim SAR dan warga yang sudah empat hari melakukan pencarian. Lampost.co/Yon Fisoma


Krui (Lampost.co): Kamis, 29 Oktober 2020, sekitar pukul 08.00 WIB, jasad korban hanyut ditemukan oleh warga yang hendak mandi tersangkut batu dibagian muara Way Tenumbang tepatnya di pangkalan pasir Sukabanjar, Pekon Sukarame, Kecamatan Pesisir Selatan. Jaraknya cukup jauh dari lokasi saat korban menyeberangi sungai itu hingga terseret arus dan hilang pada Minggu, 25 Oktober 2020 sore. 

Sebelumnya hingga, Rabu sore (28 Oktober 2020) cuaca mendung, terlihat banyak warga berkumpul di jembatan Way Tenumbang. Konsentrasi mereka terpusat dengan melihat ke sungai yang berada di bawah jembatan. Ada sekelompok orang yang berada di perahu karet yang secara perlahan menyusuri bagian-bagian sungai ditempat itu, termasuk mengerahkan beberapa orang untuk menyelam mencari keberadaan jasad korban hanyut Selamet Hardi. Namun, pada pencarian hari itu Rabu 28 Oktober 2020, hasil yang didapat nihil korban tidak ditemukan. 

Kepergian korban tentunya menyisakan kesedihan dan harapan bagi keluarga agar jasad korban dapat segera ditemukan.

Baca juga: Tiga Hari Pencarian Korban Hanyut di Way Tenumbang Belum Membuahkan Hasil

Aliran Way Tenumbang meskipun memotong jalur jalan lintas Barat dan melewati pemukiman warga, terlihat keindahan Way Tenumbang dengan kealamiannya. Meskipun tetap terlihat angker dengan kondisi sungai yang lebar dan dalam.

Orang yang melihat dari pinggir atau atas sungai itu tentunya berpikir tentang berbagai mahluk penghuni sungai itu mulai dari hewan kasat mata ikan besar, buaya hingga mahluk gaib atau jin penunggu sungai. 

Peratin (kepala desa) Pekon Negeriratu Tenumbang, Dandes, mengatakan setalah jasad korban ditemukan langsung dibawa ke rumah keluarga dan kemudian dimakamkan ke tempat pemakaman umum pekon setempat. Korban meninggalkan satu istri dan dua orang anak. 

"Yang jelas pihak keluarga berterima kasih dengan semua pihak yang telah berpartisipasi selama empat hari dalam pencarian korban. Korban berumur 43 tahun. Meninggalkan dua orang anak lai-laki, yang sulung kelas satu SMA dan nomor dua kelas dua SD. Seorang istri namanya Ida," kata Dandes. 

Sejak dahulu, kata Dandes, kalau terjadi banjir Way Tenumbang kerap memakan korban. Orang hanyut terseret arus hilang dan meninggal. Namun dalam rentang waktu 20 tahun hal itu tidak terjadi lagi dan kembali terulang saat ini. 

"Ya kalau menurut cerita dahulu sering terjadi. Dan ini baru terjadi lagi sekarang. Berjarak sekitar dua puluh tahun lalu atau sekitar tahun 2000-an. Terakhir terjadi peristiwa seperti ini dan sekarang kembali terjadi," kata dia. 

Ia berharap pemerintah dapat membangun fasilitas jembatan di beberapa lokasi aliran Way Tenumbang, khususnya di jalur penghubung kebun dan wilayah pemukiman juga untuk wilayah perkebunan antar pekon ditempat itu. Agar jika terjadi banjir, masyarakat dapat lewat jembatan dan tidak harus berenang menyeberangi sungai. 

"Sebenarnya memang betul itu. Paling tidak ada jembatan ayun atau jembatan gantung dari Pekon Tenumbang menghubungkan Pekon Sukarame di jalur-jalur perkebunan Way Tenumbang," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Berita Terkait


Komentar